23 September 2010

26. SUFI HAKIKI DAN SUFI PALSU

Syeikh Abdul Qadir al-Jailani
oleh Geng Abjad Malaysia
http://www.facebook.com/notes.php?id=1526134910#!/note.php?note_id=415972686822

0rang-orang yang mengikuti perjalanan ruhani menuju Allah (Ahli Suluk
atau Ahli Thariqat) terbagi menjadi dua golongan.

Yang pertama, ialah golongan Ahli Sunnah Wal-Jama'ah.
Mereka mematuhi ajaran al-Qur'an dan mematuhi amalan dan peraturan
yang dicontohkan dari perilaku dan kata-kata Nabi Muharnmad Saw.
Mereka mengikuti panduan tersebut dalam perkataan, dalam bertindak,
dalam pemikiran dan dalam perasaan mereka.
Mereka mengikuti maksud di dalam hati atau intisari yang tersirat dan
yang terpendam dalam ajaran Islam.
Mereka sangat paham dan tidak mengikuti begitu saja ajaran-ajaran
Islam.
Mereka mematuhi ajaran Islam sepenuhnya, menghayati dan menikmati
manisnya ajaran dan prinsip agama.
Mereka melakukan ibadah bukan karena paksaan, tetapi mereka merasa
nikmat melakukannya.
Inilah jalan mistik (keruhanian) yang mereka patuhi.
Mereka adalah kaum pencinta Allah yang sebenarnya.

Ada sebagian dari mereka yang dijanjikan dengan surga tanpa dihisab
terlebih dahulu di hari Pengadilan.
Ada sebagian merasakan sedikit azab di Hari Pembalasan, kemudian
dimasukkan ke surga.
Ada pula yang terpaksa merasakan azab neraka untuk sekian lama guna
membersihkan dosa-dosa mereka sebelum dimasukkan ke surga. Tetapi
tidak ada yang berada selama-lamanya dalam neraka itu.
Yang kekal dalam neraka ialah orang-orang kafir dan orang-orang
munafik.

Yang kedua, ialah kaum yang sesat atau kaum Sufi yang patsu yang
terdiri dari berbagai golongan.
Mereka ini adalah kaum yang sesat di zaman ini.

Golongan yang Sesat

Banyak golongan orang-orang yang sesat, antara lain:

Golongan Hululiyyah: Mereka berpendapat adalah halal melihat badan
orang yang bukan mahramn, yang menggiurkan nafsu, dan paras yang
cantik yang bisa mendorong kepada zina, baik lelaki atau perempuan,
siapa pun baik anak atau isteri orang. Mereka berbaur antara lelaki
dan perempuan dan menari bersama-sama.
Hal ini jelas sekali berlawanan dengan ajaran dan prinsip Islam.

Golongan Haliyyah: Mereka ini gemar menyanyi, menari, memekik,
menjerit dan menepuk tangan.
Konon, dalam keadaan demikian mereka dapat mengatasi dan melampaui
hukum-hukum syari'at Islam.
Tidak perlu lagi bersyari'at karena telah melampaui peringkat
syari'at.
Hal ini jelas sesat karena Nabi Muhammad Saw. sendiri pun mengikuti
syari'at,walaupun ia kekasih Allah Swt.

Golongan Auliaiyyah: Mereka ini mendakwakan diri dekat dengan Allah.
Dengan kata lain telah mencapai peringkat Aulia Allah.
Apabila telah jadi Waliullah tidak perlu lagi shalat, puasa, haji,
dan beribadah lainnya.
Mereka berpendapat bahwa seseorang Wali menjadi anak Allah dan dengan
itu mereka lebih tinggi derajatnya dari Nabi.
Mereka mengatakan bahwa ilmu atau wahyu sampai kepada Nabi melalui
malaikat Jibril, tetapi Waliyullah menerima ilham atau hikmah
langsung dari Allah.
Itulah dakwaan mereka.
Pendapat mereka ini adalah silap, salah dan sesat yang akan membawa
mereka kepada kebinasaan dan akan menjerumuskan mereka ke lembah
bid'ah dan kafir.

Golongan Syamuraniyyah: Mereka percaya kalam (perkataan) adalah kekal
dan barangsiapa menyebut kalam yang kekal (kalam Allah) itu tidak
terikat dengan hukum atau syari'at agama.
Mereka tidak peduli dengan hukum halal atau haram.
Dalam upacara ibadah mereka menggunakan alat musik.
Perempuan dan lelaki berbaur menjadi satu.
Tidak ada hijab lelaki dengan perempuan.
Ini sudah jelas sesat dan menyimpang jauh dari ajaran al-Qur'an.

Golongan Hubbiyyah: Golongan ini berkata bahwa apabila seseorang
sampai ke peringkat cinta, mereka tidak lagi berada di bawah hukum
syari'at.
Mereka tidak peduli dengan pakaian. Kadang-kadang mereka bertelanjang
bogel.
Tidak ada lagi perasaan malu pada diri mereka.
Inilah ajaran sesat dan menyesatkan.

Golongan Huriyyah: Mereka senang berteriak-teriak, memekik-mekik,
menyanyi, dan bertepuk tangan, konon katanya untuk mendapatkan Dzauq
(ekstasi).
Mereka mendakwa bahwa dalam keadaan Dzauq itu mereka ber-senggama
atau bersetubuh dengan bidadari.
Setelah mereka keluar dari keadaan Dzauq, mereka pun mandi hadas.
Mereka ini tertipu oleh nafsu mereka sendiri.
Sesatlah mereka.

Golongan lbahiyyah: Mereka ini tidak menyuruh berbuat baik dan tidak
melarang berbuat jahat.
Sebaliknya mereka menghalalkan yang haram.
Zina pun dihalalkan.
Bagi mereka, semua wanita halal untuk semua lelaki.
Inilah golongan yang sesat dan miskin yang meminta sedekah dari rumah
ke rumah.
Mereka beranggapan bahwa mereka menerima azab Allah yang hina.

Golongan Mutakasiliyyah: Mereka mengamalkan prinsip bermalas-malasan
dalam meneari nafkah.
Mereka telah me- ninggalkan dunia dan keduniaan.
Maka musnahlah mereka dalam kemalasan mereka sendiri.

Golongan Mutajahiliyyah: Mereka berpura-pura bodoh dan berpakaian
tidak senonoh dan bersikap seperti orang kafir.

Padahal Allah berfirman:

"Janganlah kamu cenderung meniru orang-orang yang zalim, kelak kamu
akan di sentuh (dijilat) api neraka" (Hud: 113).

Nabi pun pernah bersabda:

"Barangsiapa mencoba menyerupai sesuatu kaum, maka mereka dikira
sebagai ahli kaum itu. "

Golongan Wafiqiyyah: Mereka berpendapat bahwa Allah yang mampu
mengenal Allah.
Dengan itu mereka tidak mau berusaha mencari hakikat atau kebenaran.
Karena kebodohan mereka itu, mereka terseret ke jurang kerusakan dan
kesesatan.

Golongan Ilhamiyyah: Mereka ini mementingkan ilham.
Tidak mau menuntut ilmu dan tidak mau belajar.
Mereka berkata bahwa al-Qur'an adalah hijab bagi mereka.
Mereka menggunakan puisi karangan mereka sebagai ganti al-Qur'an.
Mereka membuang al-Qur'an dan meninggalkan ibadah shalat, dan lain-
lain.
Mereka mengajarkan anak-anak mereka berpuisi sebagai ganti al-Qur'an.
Maka sesatlah mereka.

Demikian banyak ajaran-ajaran sesat dari guru Sufl palsu di zaman
ini, kata Syeikh Abdul Qadir al-jailani.

Sufi yang Benar dan Sufi Palsu

Sebenarnya golongan sesat dari kaum yang mengaku dirinya Sufi itu
akan terus ada di setiap masa, baik dari golongan kaum Muslimin yang
melencong dari jalan yang benar maupun dari golongan kaum kafir juga.

Adapun kaum kafir, sejak semula mereka telah tersesat dalam belenggu
kekufuran.
Meskipun mereka bertabiat seperti seorang Sufi, dan mereka menahan
diri dari segala macam tuntutan hawa nafsu untuk bertaqarrub, namun
dasar kepercayaan mereka sendiri itu telah salah dan melenceng dari
jalan Allah yang sebenarnya.
Mereka seperti yang sering kita lihat pada orang-orang yang
berkeperecayaan Hindu dan Buddha dan sebagainya.
Sayang sekali jerih payah mereka dalam mengendalikan diri dari hawa
nafsu dunia itu ditujukan untuk kepercayaan yang sesat,bukan kepada
Tuhan Yang Maha Esa.

Allah berfirman:

"Dan siapa yang memohon kepada tuhan yang selain Allah, dia tidak
mempunyai alasan apa pun tentang kepercayaannya itu, maka
sesungguhnya perhitungannya nanti di sisi Tuhannya jua, sesungguhnya
tiadalah beruntung orang-orang yang tidak beriman itu" (Al-Mu'minun: 117).

Sungguh menyedihkan keadaan mereka.
Mereka telah bersusah payah menahan segala kenikmatan di dunia,
tetapi tidak mampu memetik hasil dari jerih payahnya itu, karena apa
yang mereka lakukan adalah sia-sia belaka.
Sementara di akhirat mereka pun akan mendapat hukuman, siksa di dalam
api neraka untuk selama-lamanya karena tidak mengikuti petunjuk yang benar.

Bagaimana dengan orang-orang yang beriman, tetapi kemudian yang
tersesat jalan?
Mungkin pada awalnya mereka melangkah di jalan yang benar atau
berniat baik untuk tujuan Sufi.
Tetapi tidak mustahil, mereka bisa tertipu dalam perjalanan
kesufiannya itu, karena terpengaruh oleh hawa nafsu.
Nafsu yang akan ditentangnya ternyata berbalik muka menjadi gejala
yang menentangnya.
Orang yang menentang hawa nafsu itu bertujuan menghadapkan wajahnya
kepada Tuhan yang dicari-Nya agar dikenali-Nya. Perlakuannya di dalam
kesufian itu bukanlah bertujuan untuk mencari pangkat atau memperoleh
pujian dan nama dalam masyarakat pengikutnya.
Apabila dilihatnya dirinya dihormati, para pengikutnya berkerumun
mengelilinginya, dan terharulah hatinya, ia sangat senang dengan
keadaan ini.
Padahal, inilah penyakit, yang dalam istilah kesufian disebut
Istidraj, yakni perkara-perkara yang datang sebagai cobaan dan ujian
kepada seorang Sufi.

Orang yang semacam ini, memang setan senang sekali berdampingan
dengannya.
Dia malah lebih senang menyandarkan dirinya dengan Sufi palsu ini
daripada orang yang bodoh dari liku-liku urusan agamanya.
Memang mudah orang yang 'bodoh' itu dapat dipengaruhi dan
diperdayakan oleh setan, tetapi hasilnya hanya seorang saja.
Berbanding dengan Sufi palsu ini, dia mempunyai pengikut yang banyak,
kalau dapat diperdayakan setan satu orang Sufi, maka Sufi itu dapat
menghantar perdayaan itu kepada semua pengikutnya, kecuali orang yang
diselamatkan Tuhan.

Setan akan berbisik kepada si Sufi palsu itu:
Engkau seorang besar! Pengaruhmu sungguh mengagumkan! Sebab para
pengikutmu banyak sekali,karena itu engkau jangan bimbang! Mereka
tidak akan menyia-nyiakanmu.
Engkaulah orang Sufi yang benar! Engkau wali, dan bukankah wali itu
orang kesayangan Tuhan! Apa pedulimu kepada orang-orang bodoh yang
merendahkan derajatmu.
Mereka itu tidak mengerti. Masih jahil. Jahil murakkab.
Engkau begini, dan begitu, dan seterusnya.
Bisikan itu tidak ada akhirnya.
Diberikan kepadanya Khatir-khatir, yakni lintasan-lintasan hati yang
semuanya palsu dan keliru, sedang diatermakan semua umpan yang
dipasangkan di dalam perangkapnya.
Itulah dia Istidraj yang selalu menimpa orang yang mengangan-angankan
diri menjadi Sufi sebelum waktunya.
llham yang diterimanya bukan ilham dari Allah Swt., tetapi ilham dari
setan, sedang dirinya tidak tahu.

Orang Sufi palsu ini sungguh berbahaya kepada umat Islam.
Dia lebih berbahaya daripada sang Sufi sesat, yang perjalanannya
benar, tetapi kepercayaannya salah dan sesat.
Sebab orang Sufi sesat itu, semua orang Islam telah rnengenalinya dan
mudah dikenali.
Namun sang Sufi palsu itu akan membawa kekeliruan kepada khalayak yang
tidak mengerti, atau orang yang mudah terpengaruh dengan hal-hal yang
tidak asli atau tiruan.
Lalu bukan saja dia yang sesat, malah dia akan menyesatkan banyak
orang yang tidak berdosa, hanya salahnya karena terpengaruh dengan
yang salah yang digambarkan sebagai benar, wallahu-a'lam.

Pendapat Ahli Sunnah wal-jama'ah

Para pemimpin dan guru-guru Sufi dari golongan Ahli Sunnah Wal-
Jama'ah berpendapat bahwa para sahabat, dengan berkat ajaran dan
kehadiran Nabi, adalah dalam keadaan Dzauq keruhanian yang tinggi
martabatnya.
Setelah zaman berlalu, keadaan keruhanian yang tulen ini makin lama
makin kurang dan tipis.
Kemudian keadaan keruhanian ini diwarisi oleh guru-guru mursyid yang
kemudian, pecah menjadi banyak firqah dan
cabang.

Oleh karena terlalu banyak firqah dan golongan kaum mursyid itu,
hikmah dan tenaganya pun makin tipis dan makin berpecah-belah. Dalam
banyak hal, yang tinggal hanya bentuk zahir saja yang berlagak
seperti guru Sufi, padahal batinnya dan hakikatnya bukan Sufi. Lama
kelamaan timbullah Sufi-Sufi palsu dan bid'ah. Ada yang menganut
golongan Haydari dan berpura-pura menjadi perwira dan pahlawan.
Ada pula yang menamakan diri mereka kaum Adhami dan berpura-pura
mengikuti jejak langkah Ibrahim Adham, yaitu seorang Sufi besar yang meninggalkan
istana dan pangkat sultan karena hendak mengamalkan ilmu Sufi.
Bahkan, masih banyak lagi ajaran sesat dari guru Sufi palsu yang
timbul.

Dalam zaman ini, ahli-ahli Sufi yang sebenarnya, yang bersesuaian
dengan syari'at, makin lama makin berkurangan jumlah mereka.

Ahli Sufi yang hakiki dapat dikenali dengan dua cara:

Pertama, zahir mereka, yaitu mereka mengamalkan syari'at.

Kedua, batin mereka, yaitu boleh dijadikan contoh teladan karena
mereka mewarisi keruhanian Nabi Saw.
Sebenarnya contoh manusia yang paling baik ialah Nabi Besar Muhammad
Saw. Dialah sebenar-benar Sufi yang hakiki.
Syari'at dan Hakikat hendaklah bersama seiring jalan
untuk kesinambungan agama dalam kehidupan mukmin dan mukminah sejati.

Seorang Waliyullah yang mewarisi keruhanian Nabi akan memberi berkat
kepada Si Salik dengan kehadiran fisiknya. Sesungguhnya Iblis tidak
dapat menyerupai Nabi Saw.

Awas, wahai Salik, orang buta tidak boleh menunjukkan jalan pada si
buta yang lain.

Pandangan kita hendaklah tajam supaya kita dapat membedakan kebaikan
dengan kejahatan, walau sebesar zarrah pun.

Ingatlah, bahwa perjalanan Sufi itu bukan medan permainan.
Bila suka boleh ikut, bila malas boleh ditinggalkan. la adalah jalan
menuju ke Hadhirat Ketuhanan, yang kepadanya tidak semudah diucapkan lisan.
walaupun begitu, wajarlah ia menjadi tujuan setiap insan. Yang ingin
mencari ketenangan diri dan makrifat hakikat penciptaan Tuhan.
Bukankah kita disuruh rnenyembah-Nya menurut bunyi sebuah firman?
Bagaimana boleh menyembah kalau belum sempat untuk berkenalan?

Khatir yang Datang Kepada Sufl

Khatir itu ialah lintasan-lintasan hati, atau cetusan yang muncul di
hati orang Mukmin karena sesuatu sebab atau yang lain. la biasanya
datang secara tiba-tiba sehingga mengharukan orang yang didatanginya.
Kalau ia telah terbiasa dengan khatir- khatir seperti itu,
maka perkaranya agak mudah sedikit, akan tetapi khatir yang datang sekali-
sekali harus diberikan perhatian yang cukup dan dipertimbangkan
dengan sehalus- halusnya agar dia tidak tertipu.

Apabila khatir itu muncul, dan hatinya kuat mengatakan, bahwa dia itu
datang dari Malaikat, yakni Khatir-Al-Malak, mestilah dia bertenang
lebih dahulu dan bertanya pada dirinya:

Siapa engkau ini, dan engkau datang dari mana?
Mungkin tidak sukar ia akan mendengar suara hatinya menjawab: Aku ini
sebagian Nubuwah, yakni pemberitahuan khusus yang datang dari Al-Haqq,
yaitu Tuhan yang sebenarnya. Aku memang benar. Aku datang dari
Habib (siapa yang dicintai) dan Ar-Rafiq (Rakan). Khatir, atau bisikan hati ini akan
memenuhi kebatinannya, pendengarannya dan pemandangannya. Sikap orang
yang didatangi Khatir ini gemar sekali rnengasingkan diri dari
kumpulan orang ramai, tidak suka banyak berbicara, seperti orang
sakit lagaknya. Mukanya terlalu masyghul karena tekanan Khatir yang
datang menyelubungi jiwanya itu.

Dalam keadaan yang serupa itu, orang yang tidak tahu akan mengatakan
bahwa dia sedang ditimpa gangguan dalam dirinya, karena semua
sifatnya berubah dan seolah-olah dia berada di tempat yang bukan
tempat yang dia sedang berada itu.
Tetapi sebentar lagi keadaannya akan berubah pula, dan dia kelihatan
penuh perasaan tenteram dan tenang, dan sedikit demi sedikit
keadaannya akan kembali pulih seperti sediakala seolah-olah tiada
sesuatu yang menimpa dirinya.

Di dalam keadaan dia sedang diselubungi Khatir itu, dia kelihatan
seperti orang yang terkena pukau, yang kesadarannya tidak penuh.
Kadang-kadang dia akan mengatakan sesuatu yang boleh didengar oleh
orang yang berada di sisinya, dan kadang-kadang tidak kedengaran apa
yang dikatakannya itu, seolah-olah dia sedang asyik berbicara sesuatu
dengan se-seorang yang berada di sisinya. Namun siapa yang mengerti
semua keadaan ini kecuali orang yang sudah mengalaminya, dan orang
yang mengalami hampir semuanya tidak mau menceritakannya, karena
semua itu adalah rahsia-rahsia ketuhanan yang halus yang tidak
boleh dibocorkan. Dan kalau diberitahukan pula, mungkin ramai orang
yang tidak percaya. Mungkin dikatakan orang, dia itu terasuki jin,
wallahu-a'lam.

01 Ogos 2010

25. MASIIHI DAJJAL LAKNATULLAH DAN YAKJUJ MAKJUJ

pada 04hb Julai 2010 pukul 12.22 pagi
Dari Nota Abjad Malaysia
Dengan Izin Pok nik

DAJJAL

"Ia (Dajjal) akan datang dengan membawa umpama syurga dan neraka; dan apa yang ia katakan syurga itu sebenarnya (adalah) neraka"

dan seumpamanya menyatakan :

"Dan ia akan membawa air dan api. Dan apa yang orang-orang melihat air itu sebenarnya api yang menghanguskan; dan apa yang orang-orang melihatnya api itu sebenarnya air tawar yang sejuk"

"la akan membawa gunung roti dan sungai penuh air "

"Ia membawa dua sungai, yang satu penuh air, dan satu lagi penuh api"

"Dajjal akan muncul dengan membawa sungai dan api; barang siapa masuk dalam sungainya; ia akan memikul beban dan dilenyapkan ganjarannya; dan barangsiapa masuk dalam apinya, akan memperoleh ganjaran dan dihilangkan bebannya"

"Sungguh ia akan membawa syurga dan neraka. Adapun neraka Dajjal ialah syurga, dan syurga Dajjal ialah Neraka. Maka barangsiapa diuji dengan neraka Dajjal, hendaklah ia menutup matanya dan mohon pertolongan Allah*, dan neraka itu akan dingin dan damai"

* Mengikut kefahaman saya, ada satu lagi menyebut memohon Pertolongan Allah SWT menerusi Amalan pembacaan Surah Al-Kahfi. Wallahualam.

"Ia akan menjelajah dengan membawa dua gunung. Yang satu, penuh dengan pohon, buah-buahan dan air, dan yang lain, penuh dengan api dan asap. Ia berkata: Ini adalah syurga, dan ini adalah neraka"

"Kami bertanya:

Wahai Rasulullah, bagaimanakah cepatnya perjalanan Dajjal di muka bumi? Beliau menjawab: seperti cepatnya awan ditiup angin"

"Bumi akan digulung untuknya; ia menggenggam awan di tangan kanannya, dan mendahului matahari di tempat terbenamnya; lautan hanya sedalam mata-kakinya; di depannya adalah gunung yang penuh asap"

"Ia akan melompat-lompat antara langit dan bumi" (Abu Dawud).
.
"Dajjal akan muncul dengan menaiki keledai putih; yang jarak antara dua telinganya adalah tujuh puluh ela"

(ada satu lagi menyatakan 40 ela dan 30 ela di mana jarak antara kaki-kakinya adalah perjalanan sehari semalam)

"Dan ia melalui hutan rimba, dan ia berkata kepadanya: Keluarkanlah kekayaanmu, maka kekayaaan rimba itu mengikuti dia, bagaikan lebah mengikuti ratunya"

"Ia datang pada suatu kaum dan mengajak mereka (supaya mengikutinya), dan kaum itu beriman kepadanya, ia memerintahkan langit, maka turunlah hujan, lalu ia memerintahkan bumi, maka keluarlah tumbuh-tumbuhan. Lalu ia datang kepada kaum yang lain, dan mengajak mereka (supaya mengikutinya), dan kaum itu menolak ajakannya, maka berpalinglah ia dari mereka, lalu kaum itu tertimpa kelaparan, dan tak ada sedikit kekayaan pun yang mereka kuasai"

"Dan di antara fitnah Dajjal ialah, apabila ia datang pada suatu kaum yang tidak mau beriman kepadanya, maka tiada lagi ternak mereka yang tertinggal, melainkan binasalah semuanya; dan apabila ia datang pada kaum lain yang beriman kepadanya, maka ia memberi perintah kepada langit, lalu turunlah hujan, dan ia memberi perintah kepada bumi, lalu keluarlah tumbuh-tumbuhan"

"Sungai-sungai dunia dan buah-buahan akan tunduk kepada Dajjal; maka barangsiapa mahu mengikutinya, ia akan memberi makan kepadanya dan menjadikan (pengikutnya) seorang kafir dan barangsiapa menentang dia, maka persediaan makanan (penentang Dajjal) akan dirampas dan dihentikan mata pencariannya"

"Ada beberapa kaum yang bersahabat dengan Dajjal akan berkata: "Sesungguhnya kami tahu bahwa Dajjal adalah kafir, tetapi kami bersahabat dengan Dajjal, agar kami dapat makan dari makanannya, dan agar kami dapat memberi makan ternak kami dari pohon-pohonnya"

"Dan ia (Dajjal) akan membawa gunung roti, dan sekelian manusia akan mengalami kesukaran, kecuali orang yang mengikutinya"

"bersama-sama Dajjal akan dibangkitkan syaitan-syaitan yang rupanya mirip dengan orang-orang yang telah meninggal, apakah itu ayah ataukah saudara"

"Syaitan-syaitan yang rupanya mirip dengan orang yarg telah meninggal akan menyertai Dajjal, dan mereka akan berkata kepada orang yang masih hidup: Kenalkah engkau padaku? Aku adalah saudaramu; aku adalah ayahmu; atau aku adalah salah seorang kerabatmu"

"Dan Dajjal akan menyembuhkan orang buta, orang sakit lepra, dan akan menghidupkan orang mati"

"Bersama-sama Dajjal akan dibangkitkan syaitan-syaitan yang akan bercakap-cakap dengan manusia"

(dan ditafsir bahawa orang yang terpedaya akan mengikuti Dajjal berkenaan kerana menyangkakan Dajjal mempunyai mukjizat Nabi Isa a.s. (yang telah dijanjikan Allah SWT untuk menjadi penyelamat selepas Imam Mahdi) kerana dapat menghidupkan orang yang mati, sembuhkan kusta, mencelikkan mata yang buta)

"Dan di belakangnya ialah Dajjal yang bersama-sama dia adalah tujuh puluh ribu orang Yahudi" (dalam yang lain disebutkan 70,000 Yahudi Isfahan yang memakai toga)

"Kebanyakan orang yang mengikuti Dajjal ialah kaum Yahudi, para wanita, dan rakyat jelata"

"Dajjal musuh Allah, akan muncul dan dia akan disertai oleh bala tentara yang terdiri dari kaum Yahudi dan segala macam bangsa"

"Dan orang yang paling akhir yang mendatangi Dajjal ialah kaum wanita"

"Awas! Kebanyakan kawan dan pengikut Dajjal ialah kaum Yahudi dan anak-anak yang tidak sah" (anak luar nikah)

"Dan para wanita akan nampak seperti laki-laki dan laki-laki akan nampak seperti wanita"

"Barangsiapa mendengar perihal Dajjal, hendaklah menjauhkan (diri) daripadanya. Demi Allah! Orang akan mendatangi Dajjal, dan ia menyangka bahwa dia adalah orang mukmin, dan ia akan mengikuti dia (Dajjal) kerana syak wasangka (tipu helah/muslihat) yang ditimbulkan dalam hatinya"

"Ia (Dajjal) akan berkata: Apabila rantai yang mengikat aku ini terlepas, aku tak akan membiarkan sejengkal tanah pun yang tak dipijak oleh kakiku, kecuali kota suci Madinah" (dalam lain disebut Kota Suci Madinah dan Makkatul Mukarramah)

"Dan tidak lama lagi, aku (Dajjal) akan diizinkan keluar, maka aku akan keluar dan mengadakan perjalanan di muka bumi, dan tidak satu tempat tinggal pun yang tidak aku singgahi selama empat puluh malam, terkecuali Makkah dan Madinah"
------------------------------------

Nas-nas dan dalil-dalil mengenai Dajjal adalah merujuk kepada Surah Al-Kahfi. Manakala kumpulan hadis-hadis itu dipetik daripada misykat (tak ingat nama misykat berkenaan)

Selain daripada penerangan di atas, berikut ada beberapa nas mengenai Dajjal (Beliau juga memakai gelaran Al-Masih Dajjal - kerana cuba meniru Nabi Isa a.s. Al-Masih) - yang Pok Nik petik dari beberapa sumber tetapi telah Pok Nik periksa kesahihannya dan pernah mendengar Ustaz Ahmad tazkirah mengenainya.

Doa yang disarankan oleh Rasulullah SAW :

Allahumma inna naudhu bika min 'adhabi jahannam, wa min 'adhabi 'l-qabr, wa min fitnati 'l-mahya'i wa'l-mamat, wa min fitnati' l-masihi 'd-dajjal." (Isnad Sahih - dirawikan oleh ramai sahabat spt. Anas, Abu Hurairah 'A'ishah, Ibn 'Abbas, dan Sa'd)

(Pok Nik juga dipesan oleh Al-Allamah Ustaz Ahmad supaya kita membaca doa ini apabila berdepan dengan sesuatu atas urusan yang didakwa sebagai urusan agama yang kita tidak pasti kebenarannya atau kita rasa was-was atau orang yang membawa urusan agama itu mungkin berpura-pura (zindiq, munafiq, fasiq dsb) - InsyaAllah, Allah SWT akan menunjukkan tanda-tandanya)

Selain itu, Rasulullah SAW juga menyaran mengamalkan bacaan 10 ayat pertama surah Kahfi. (Mutawatir Al Hadith - Abu Daud)

Dajjal berketurunan Yahudi. Bukan dari keturunan jin tetapi daripada manusia yang Minal Munzharin - ditangguhkan kematiannya. Bapa dajjal berketurunan syaqq (dukun yahudi) rupanya tinggi dan gemuk dan berhidung seperti paruh burung dan ibunya juga seorang yang gemuk dan dari bangsa Jin yang pernah ditangkap oleh Nabi Allah Sulaiman a.s. dan dimasukkan ke dalam penjara.

Hadis Huzaifah r.a katanya: Rasulullah s.a.w. telah bersabda: Dajjal ialah orang yang buta sebelah matanya iaitu sebelah kiri, lebat (panjang) rambutnya serta dia mempunyai Syurga dan Neraka. Nerakanya itu merupakan Syurga dan Syurganya pula ialah Neraka (Hadis Sahih Muslim)

Ada beberapa ciri perawakan Dajjal yg disebutkan dalam Hadis Rasulullah S.a.w, diantaranya: Seorang yg kelihatannya masih muda, berbadan besar dan agak kemerah-merahan, rambutnya kerinting dan tebal. Kelihatan dari belakang seolah-olah dahan kayu yg rimbun.

Pertama: Buta mata kirinya dan kelihatan seperti buah kismis yg kecut, manakala mata kanannya tertonjol keluar kehijau-hijauan berkelip-kelip laksana bintang. Jadi kedua-dua matanya adalah cacat.

Kedua: Tertulis di dahinya tulisan “Kaf-Fa-Ra”.

Kedua-dua tanda ini muncul dalam diri Dajjal setelah ia mengaku sebagai Tuhan.

Menurut riwayat yg sahih yg disebutkan dalam kitab “Shahih Muslim”, bahawa Dajjal itu sudah wujud sejak beberapa lama. Ia dirantai di sebuah pulau dan ditunggu oleh seekor binatang yg bernama “Al-Jassasah”. Terdapat hadis panjang mengenainya. Daripada Hadis ini jelaslah bagi kita bahawa Dajjal itu telah ada dan ia menunggu masa yg diizinkan oleh Allah swt utk keluar menjelajah permukaan bumi ini.

Dajjal akan hidup setelah ia memulakan cabarannya kepada umat ini, selama empat puluh hari sahaja. Namun begitu, hari pertamanya adalah sama dgn setahun dan hari kedua sama dengan sebulan dan ketiga sama dengan satu minggu dan hari-hari baki lagi sama seperti hari-hari biasa. Jadi keseluruhan masa Dajjal membuat fitnah dan kerosakan itu ialah 14 bulan dan 14 hari. Dalam Hadis riwayat Muslim ada disebutkan:

Kami bertanya: “Wahai Rasulullah! Berapa lamakah ia akan tinggal di muka bumi ini? Nabi saw, menjawab: Ia akan tinggal selama empat puluh hari. Hari yg pertama seperti setahun dan hari berikutnya seperti sebulan dan hari ketiga seperti seminggu. Kemudian hari yg masih tinggal lagi (iaitu 37 hari) adalah sama seperti hari kamu yg biasa.

Lalu kami bertanya lagi: Wahai Rasulullah saw! Di hari yg panjang seperti setahun itu, apakah cukup bagi kami hanya sembahyang sehari sahaja (iaitu 5 waktu sahaja). Nabi saw menjawab: Tidak cukup. Kamu mesti mengira hari itu dgn menentukan kadar yg bersesuaian bagi setiap sembahyang..”

Yakjuj Makjuj

"Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) mengenai Zulkarnain. Katakanlah: ‘Aku akan bacakan kepadamu cerita mengenainya’. Sesungguhnya Kami memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka dia pun menempuh suatu jalan.

“Hingga apabila dia sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut berlumpur hitam dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: ‘Hai Zulkarnain, kamu boleh menyeksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka’. Berkata Zulkarnain: ‘Adapun orang yang aniaya maka kami kelak akan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya’.” (ayat 83 hingga 87)

“Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila sampai ke tempat terbit matahari (Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu,” (ayat 89 dan 90).

“Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia sampai antara dua gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: ‘Hai Zulkarnain, sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj itu orang yang membuat kerosakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara mereka?’.

Zulkarnain berkata: ‘Apa yang dikuasakan Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi’.

“Hingga apabila besi itu sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulkarnain: ‘Tiuplah (api itu)’. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata: ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar ku tuangkan ke atas besi panas itu’.

“Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. Zulkarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar’,” (ayat 92 hingga 98).

04 Jun 2010

24. KEJADIAN JIN

Kejadian Jin
Oleh:
Tuan Guru Syeikh Ahmad Junaidin, Guru Ijazah Pusat Pertubuhan Gerak Seni Silat Abjad (asli) Jabat Kilat Malaysia merangkap YDP Agong Persatuan Warga Melayu Malaysia

Perkataan jin
• Dari segi bahasa ialah suatu yang tersorok atau tersembunyi atau terlindung.
• Dari segi istilah(maksud sebenar) ialah sejenis makhluk yang tersorok atau tersembunyi di antara malaikat dan manusia, tidak ghaib betul seperti malaikat (tidak murni) tidak latiff tetapi boleh menyerupai dirinya sebagai murni dan tidak betul-betul ada roh serta berjisim seperti manusia, tetapi boleh menyerupai dirinya sebagai manusia ada roh dan berjisim, sebagai suatu tipu daya sahaja. Tidak diizin oleh Allah menyerupai rupa Nabi Muhammad s.a.w, dan tidak boleh mengaku dirinya sebagai Nabi Muhammad s.a.w. Untuk memudahkan faham dan sampai pemikiran orang awam, jin itu ialah laser yang tidak murni, kerana asal kejadiannya itu api Maarij dan angin Samuun yang suhu panasnya tidak boleh dinilai atau disukat dengan suhu panas dunia.

Mafhum dari ayat Al- Quran;
a. Maksud ayat 26-27 Surah Al-Hijr :
Mafhumnya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering kontang yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk dan Kami telah ciptakan jin sebelum itu sebelum (diciptakan manusia) dari api yang sangat panas”

b. Maksud ayat 15 Surah Ar-Rahman :
Mafhumnya: “Dia menciptakan Jan (Jin) dari nyala api (pucuk api yang bernyala-nyala)

c. Maksud ayat 12 Surah Al-‘Araf :
Mafhumnya: “Engkau ciptakan aku (kata Iblis) dari api sedangkan Engkau ciptakan dia (Adam) dari tanah.

Dari Mafhum Hadis Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim r.a.
maksudnya: “Malaikat diciptakan dari cahaya. Jan diciptakan dari lidah api sedangkan Adam diciptakan dari suatu yang telah disebutkan kepada kamu (tanah).”

Keterangan “Al-Maarij”
a. “Maarij” ertinya nyalaan api yang sangat kuat dan sangat panas suhunya atau “Al-Lahab” ertinya jilatan api yang sudah bercampur antara satu sama lain iaitu merah, hitam, kuning dan biru.
(Sesetengah ulama mengatakan “Al-Maarij itu ialah api yang sangat terang yang memiliki suhu panas yang sangat tinggi sehingga bercampur antara merah, hitam, kuning dan biru.”)

b. Al-Maarij – api yang bercampur warna.
c. Al-Maarij sama maknanya dengan “As-Samuun” iaitu api yang tidak berasap yang sangat tinggi suhu panasnya. Sementara As-Samuun ialah angin yang paling tinggi suhu panasnya. Angin samuun yang telah sebati dengan Al-Maarij itulah Allah jadikan Jan.

d. Hadis riwayat daripada Ibnu Mas’ud bermaksud :
“Angin Samuun ini hanyalah sebahagian daripada tujuh puluh bahagian dari angin yang sangat panas yang daripadanya Allah menjadikan Jan.”

Maka dari api inilah Allah Maha Perkasa lagi Maha Berkehendak dan Maha Berkuasa menciptakan kejadian Jin, iaitu dari sel atau atom atau nukleas-nukleas api. Kemudian Allah masukkan roh atau nyawa padanya jadilah dia hidup seperti yang dikehendaki pula oleh Allah dan dari situ diberi izin oleh Allah menzahirkan berbagai-bagai bentuk dan rupa yang disukainya dan dikehendakinya kecuali rupa Rasulullah s.a.w. mengikut tahap dan kemampuan masing-masing; dan diarah menerima syariat agama Islam sepertimana diarahkan manusia menerimanya. Bentuk rupa asalnya selepas dicipta dan ditiupkan rohnya itu hanyalah Allah dan Rasul-Nya sahaja yang mengetahuinya. Mengikut kata setengah ulama rupa, tabiat, kelakuan, perangai jin 80% ke 90% mirip kepada manusia. 10% ke 20% mirip kepada malaikat.

NABI saw mengatakan, ‘Jin terbahagi kepada tiga kelompok. Sepertiganya mempunyai sayap yang boleh membuatkan mereka terbang di udara. Sepertiga lainnya berbentuk ular dan anjing dan sepertiga lainnya boleh beralih dari satu kelompok ke kelompok lainnya.

CATATAN : Ditakhrij (dikeluarkan) oleh Al-Baihaqi dengan sanad sahih. Adapun redaksinya berbunyi sebagai berikut (terjemahannya) :

“Dari Jabir Nafir, dari Abi Tsa’labah Al-Khuntsa ra, bahawasanya Rasulullah saw bersabda, (maksudnya) ‘Jin terbahagi dalam tiga kelompok’.
“Kelompok pertama adalah jin yang mempunyai sayap dan dapat terbang di udara. Kelompok yang kedua terdiri dari jin yang berbentuk ular dan anjing, sedangkan kelompok ketiga adalah yang boleh berubah bentuk dirinya.”

Dalam Al-Mustadrak, Al-Hakim meriwayatkan hadis yang senada dengan hadis yang diriwayatkan Al-Baihaqi. Tentang hadis ini, Al-Hakim mengatakan bahawa hadis tersebut sahih sanadnya, ditakhrijkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam sahihnya.

Menurut Adz-Dzahabi, hadis ini sahih. Hadis yang mirip dengan ia diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dalam tafsirnya, yang bermaksud : “Jin terbahagi tiga kelompok. Kelompok pertama yang ada di udara. Kelompok kedua adalah jin yang boleh naik-turun kehendak hati mereka, sedangkan kelompok ketiga adalah jin yang berbentuk ular dan anjing.”

Setiap kelompok dari ketiga kelompok ini membantu kelompok atau himpunan yang lain. Katakan saja misalnya, jin-jin yang terdiri dari anjing-anjing tadi secara keseluruhannya ia merupakan himpunan dari salah satu jenis jin.

Subhanallah! Diriwayatkan dari Imam Ibn ‘Abbas ra, hadis yang mendukung pendapat ini Ibn ‘Abbas mengatakan, “Anjing itu termasuk golongan jin. Ia merupakan salinan jin. Kalau dia mengendus-endus dekat makananmu, maka lemparkanlah makananmu ke arahnya, sebab dia mempunyai selera terhadapnya.” Lihat Ibn Manzhur, Lisan Al-Arab.]

Akan tetapi, yang berwarna hitam legam dengan dua bulatan putih di atas matanya, adalah jin sangat jahat yang boleh dibunuh. Kalau engkau melihat anjing seperti itu, jangan kau biarkan. Bunuh saja.”

Diriwayatkan dari Ibn Az-Zubair, dari Jabir bin Abdullah, katanya “Rasulullah saw memerintah kami untuk membunuh anjing sehingga ada seorang wanita yang datang dari dusun dengan membawa anjingnya yang kemudian kami bunuh. Kemudian Nabi saw melarang kami membunuh anjing, seraya mengatakan, ‘Bunuhlah yang hitam legam dengan dua titik putih (di atas matanya), sebab dia adalah syaitan.”

Hadis ini ditakhrijkan oleh Muslim dalam shahihnya. Hadis ini merupakan dalil bagi perintah membunuh anjing secara umum. Kemudian perintah ini dihapus (mansuh) dan dikhususkan pada anjing hitam legam, kerana ia adalah syaitan.

Dalam Syarahnya terhadap hadis ini, Imam An-Nawawi mengatakan, “Makna Al-Bahim (yang terdapat dalam hadis tersebut) adalah hitam legam. Sedangkan dua titik, adalah titik putih yang berada di atas kedua matanya, dan itu mudah diketahui. Lihat Shahih Muslim Syarh An-Nawawi, kitab Al-Musaqah Wa Al-Muzara’ah.’

Dalam Shahih Muslim, Bab Qadr Ma Yasturu Al-Mushalliy, diriwayatkan sebuah hadis dari Abdullah Ibn Ash-Shamit, dari Abu Dzar, bahawasanya Rasulullah saw berkata, “Bila salah seorang di antara kalian berdiri untuk solat, maka hendaknya dia membuat penghalang yang merupakan tanda bagi orang yang lalu.

Sebab, kalau dia tidak membuat tanda seperti itu, maka solatnya pasti akan diputuskan (diganggu) oleh keldai, kaum wanita dan anjing hitam.” Saya bertanya Abu Dzar, “Bagaimana halnya dengan anjing hitam dibandingkan dengan anjing merah atau coklat?” Abu Dzar menjawab, “Wahai anak saudaraku, aku pernah bertanya kepada Rasulullah seperti pertanyaanmu dan beliau menjawab, “Anjing hitam adalah syaitan’.”]

“Apakah anjing-anjing hitam tersebut awalnya memang merupakan bentuk asli syaitan yang diberikan Allah atau apakah ia mengambil bentuk seperti itu?”

“Boleh jadi memang Allah telah memberinya bentuk seperti itu. Hanya Allah Yang Maha Tahu. Akan tetapi jenis ini tidak boleh mengubah diri dalam bentuk yang lain. Mereka merupakan salah satu umat syaitan yang terkutuk yang tak terbilang banyaknya. Kerana Rasulullah saw memperbolehkan kita membunuhnya, maka bunuhlah ia.”

“Bagus. Itu tentang anjing. Kalau ular?”

“Terdapat banyak ular yang sesungguhnya adalah jin, dan banyak pula yang merupakan ular penjelmaan jin. Akan tetapi ada dua jenis ular dari kelompok ini yang sama sekali tidak boleh mengubah bentuk dirinya dalam bentuk lain. Kerana itu jangan engkau ragu-ragu membunuhnya. Kalau ia menyingkir, biarkan. Kalau tidak, maka sebutlah nama Allah dan mintalah perlindungan-Nya. Sesudah itu, bunuhlah ia.”

“Apa dua jenis ular tersebut?”
“Rasulullah saw telah menyampaikan kepada kita tentang keduanya. Yang pertama Al-Abtar dan yang kedua Dzu Ath-Thifyatayn’.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibn ‘Umar ra, bahawasanya beliau mendengar Rasulullah saw berkhutbah di mimbar. Rasulullah saw berkata, “Bunuhlah ular, bunuhlah Dzu Ath-Thifyatayn dan Al-Abtar, sebab kedua binatang itu menyembur mata dan menggugurkan kandungan.”

Di dalam Shahih Al-Bukhari juga diriwayatkan bahawa Nabi saw memerintahkan para sahabat membunuh ular dan sesudah itu melarang membunuh ular yang menghuni rumah, sebab mereka adalah jin-jin yang menetap di rumah-rumah itu.

Dalam Fat-h Al-Bari Ibn Hajar mengatakan, “Adapun perkataan Nabi yang berbunyi : ‘Bunuhlah Dzu Ath-Thifyatayn, “Adalah ular yang mempunyai dua garis putih di belakangnya.” Ibn Abd Al-Barr mengatakan, “Disebut-sebut bahawa, Dzu Ath-Thifyatayn adalah sejenis ular yang mempunyai dua garis putih di belakangnya, sedangkan Al-Abtar adalah ular buntung (tidak berekor).”

Asal datok Jin bernama “Jan”, beriman dengan Allah melahirkan keturunan yang beriman. Selepas itu menjadi kufur dan kekal dalam kufur melahirkan pula keturunan-keturunan yang kufur. Anak cucunya yang asal beriman itu ada yang kekal dalam beriman dan ada pula yang jadi kufur dan ada pula yang kembali beriman. Ada yang baik, ada yang jahat, ada yang soleh, ada yang tidak soleh, ada yang ‘alim lagi mukmin, ada yang kufur, ada yang murtad, munafik, fasiq dan zalim, ada yang masuk syurga dan ada yang masuk neraka.

Keadaan Jin/Rupa Jin

a. Ruang yang kecil boleh dipenuhi oleh berjuta-juta Jin.
b. Jin yang kekal dalam kafir dan jin Islam yang fasik – rupanya huduh-huduh iaitu rupa yang menakutkan dan mengerikan.
c. Jin Islam yang soleh rupanya elok-elok.
d. Bentuk-bentuk tubuh mereka itu ada yang pendek, ada yang terlalu tinggi, ada bermacam-macam warna putih, merah, biru, hitam dan sebagainya.
e. Jin Islam yang paling tinggi imannya paling tinggi solehnya dan paling baik amalannya dan paling luas ilmunya masih ada pada dirinya sifat-sifat mazmumah seperti takabbur, riak, ‘ujub dan sebagainya mudah menerima teguran dan pengajaran.
f. Manakala manusia yang paling jahat ialah manusia yang bersifat dengan kesemua sifat-sifat mazmumah seperti sombong, riak, takabbur, ‘ujub dan sebagainya. Mungkin inilah yang lazim dikatakan : “Sebaik-baik Jin itu ialah sejahat-jahat manusia yang fasik”

Tetapi manusia yang paling jahat payah atau susah menerima pangajaran dan teguran kepada baik.
Jin sepertimana juga manusia berhajat kepada keturunan dan puak-puaknya terlalu banyak dan tuturan kata berbagai-bagai loghat atau bahasa.

a. Ada ulama membahagikan jin-jin ini kepada puak-puak yang menunggu kubur, puak-puak yang menunggu gua, puak-puak yang menunggu mayat manusia, puak-puak yang menunggu hutan rimba, puak-puak yang menunggu bukit bukau, puak-puak yang menunggu air mata air, tasik, kolam, teluk, kuala, pulau dan sebagainya.

b. Jenis-jenis Jin :
1. Iblis : (Bapa) Pujaan kepada semua jenis jin,iblis dan syaitan
2. Asy-Syaitan : Syaitan-syaitan
3. Al-Maraddah : Peragu-peragu (pewas-was)
4. Al-‘Afaariit : Penipu-penipu
5. Al-A’waan : Pelayan-pelayan
6. Al-Ghawwaasuun : Penyelam-penyelam
7. Al-Tayyaaruun : Penerbang-penerbang
8. At-Tawaabi’ : Pengikut-pengikut (Pengekor)
9. Al-Quranaa’ : Pengawan-pengawan
10. Al-‘Ummaar : Pemakmur-pemakmur


c. 7 Raja Jin (Alam) Bawah Yang Kafir
1. Mazhab
2. Marrah
3. Ahmar
4. Burkhan
5. Syamhurash
6. Zubai’ah
7. Maimon

d. 7 Raja Jin (Alam) Atas Yang Islam
1. Ruqiyaail
2. Jibriyaail
3. Samsamaail
4. Mikiyaail
5. Sarfiyaail
6. ‘Ainyaail
7. Kasfiyaail

e. Raja Jin yang menguasai kesemua jin-jin tersebut bernama THOTHAMGHI YAM YAAL.

f. Majoriti puah-puak jin terdiri dari gulungan kafir. Islam hanya gulungan minoriti sepertimana manusia dibumi. 80-90% jin menyerupai manusia.


g. Anak-anak Iblis yang mempunyai kerajaan yang besar adalah seramai lima orang :

1. Thubar - Merasuk manusia yang ditimpa musibah dan bala.
2. Daasim - Merasuk manusia untuk menceraikan ikatan silatul-rahim, rumahtangga, keluarga, sahabat-handai, jemaah dll.
3. Al-‘Awar - Merasuk manusia untuk meruntuhkan akhlak, berzina, minum arak, liwat, berjudi juga gejala sosial.
4. Mabsuut - Merasuk manusia dengan mengadu-domba, fitnah, dengki - khianat, sum’ah dll.
5. Zalanbuur - Merasuk manusia dengan api pertengkaran permusuhan
6. pembunuhan.


h. 4 raja Jin Ifrit yang mempunyai kerajaan yang besar yang menjadi menteri
kepada Nabi Allah Sulaiman a.s. (Jin yang paling jahat)

1. Thamrith
2. Munaliq
3. Hadlabaajin
4. Shughal

i. Sementara malaikat yang mengawal kesemua jin-jin di atas bernama Maithotorun yang bergelar QUTBUL JALALAH



Perbezaan di antara perkataaan Jin, Ifrit Dan Syaitan

a. Perkataan jin ditujukan kepada segala makhluk halus yang tersembunyi di antara malaikat dan manusia dan ianya tidak kelihatan oleh manusia. Pengetahuan mereka lebih luas dan panjang umurnya.

b. Perkataan Ifrit pula ditujukan kepada satu gulungan jin yang sangat kuat dan bijak menipu dan sangat busuk hati terhadap manusia. Gulungan ini tersangat sombong lagi amat durhaka.

c. Perkataan syaitan ialah ditujukan kepada satu gulungan jin yang sangat sombong lagi durhaka, pengacau dan menjadi musuh utama manusia dan mendapat kutukan Allah hingga kiamat.

d. Perkataan Iblis ialah ditujukan kepada satu jin yang sangat kuat taatnya dalam beribadah kepada Allah sehingga ia di angkat oleh Allah menjadi ketua atau qutub kepada seluruh malaikat dan jin, kemudian ia dilaknat oleh Allah menjadi makhluk yang agung kufurnya kepada Allah, oleh sebab angkuh dan takbur dirinya di atas asal usul kejadiannya terhadap kejadian Adam a.s yang dilantik menjadi khalifah Allah yang terakhir di alam ini.

e. Firman Allah bermaksud :

“Iblis menjawab : Sebab Engkau telah menghukum saya dengan tersesat, saya akan menghalang halangi mereka dari jalan-Mu Yang Lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Engkau tak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur (taat).”

Bermula dari saat itulah syaitan melancarkan gerakan permusuhan dengan manusia sehingga kiamat. Allah menjelaskan 3 jenis permusuhan syaitan dengan manusia :

i. Kejahatan (As-Suu’) : Iaitu berkenaan dengan dosa-dosa (maksiat) hati dan segala anggota badan.
ii. Kekejian (Al-Fahsyaa’) : Iaitu kejahatan yang lebih buruk atau jahat lagi, kekejian ini adalah sebahagian kedurhakaan (maksiat) kepada Allah.
iii. Berbohong terhadap Allah.

* Kecepatan bergerak Jin melebihi cepat gerak cahaya dalam satu saat.
* Umur jin tersangat panjang dan ada yang beribu tahun lama hidupnya.

* Jumlah banyaknya jin iaitu seluruh manusia daripada Adam sehingga kiamat x haiwan-haiwan x batu-batu x pasir-pasir dalam bumi dan tumbuh-tumbuhan ini hanya 1/10 jumlah keseluruhan Jin.

Manakala jumlah keseluruhan jin ialah 1/10 jumlah keseluruhan malaikat. Jumlah keseluruhan malaikat hanya Allah dan Rasul-Nya sahaja yang maha mengetahui.


* Alam kediaman Jin ialah lautan, daratan, udara dan “Alam Mithal” suatu alam yang antara alam manusia dan alam malaikat. Jika ditakdir diberi oleh Allah s.w.t. kepada kita melihatnya jika jarum yang jatuh dari atas tidak jatuh di atas bumi hanya jatuh di atas belakang-belakang mereka.

* Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadis Nabi s.a.w. bermaksud :

“Apabila kamu menghadapi malam atau kamu telah berada di sebahagian malam maka tahanlah anak-anakmu kerana sesungguhnya syaitan berkeliaran ketika itu dan apabila telah berlalu suatu ketika malam maka tahanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu rumahmu serta sebutlah nama Allah, padamkanlah lampu-lampu serta sebutkan nama Allah, ikatkan minumanmu serta sebutkan nama Allah dan tutuplah sisa-sisa makananmu serta sebutkan nama Allah (ketika menutupnya)”.
(Maksudnya syaitan-syaitan tidur di waktu siang dalam cahaya dan sinar sehingga menjelang petang merupakan saat mereka berkeliaran mencari rezeki baik lelaki atau perempuan, kanak-kanak atau dewasa.)


Kejadian makhluk mengikut apa yang difahamkan bahawa :

a. Asalnya kejadian manusia itu ialah campuran :

i. Jisim Kathif iaitu tanah dan air.
ii. Jisim Syafaf iaitu murni – api dan angin.
iii. Nurani iaitu roh, akal, nafsu dan hati yang dinamakan “Latifatur-
Rabbaniah”. Sesuai dengan manusia sebaik-baik kejadian dan ciptaan Allah
dan khalifah Allah.

b. Manakala kejadian Jin pula :

i. Jisim Syafaf murni iaitu api dan angin.
ii. Nurani-iaitu roh, akal, nafsu dan hati yang sesuai dan sepadan dengan
kejadian jin.

c. Binatang : i. Jisim Kathif
ii. Jisim Syafaf

d. Batu-batu dan tumbuhan : Jisim Kathif semata-mata.

e. Malaikat : Nurani semata-mata.
Kata setengah Ulama : ‘Azazil itu bukanlah moyang jin, sebenarnya satu jin yang paling abid dikalangan jin yang diangkat menjadi ketua ahli-ahli abid kepada jin dan malaikat. Dia menjadi angkuh dan takabbur di atas keilmuan, ketaqwaan dan banyak ibadat serta asal-usul kejadiannya. Maka Allah melaknatnya menjadi kafir dengan nama Iblis.

a. Iblis apabila menyentuh peha kanan dan peha kirinya terbit 33 biji telor. Dalam setiap biji telor itu ada 33 pasang benihnya. Tiap-tiap pasang itu apabila menyentuh peha kanan dengan peha kiri terbit pula seperti dahulunya begitulah sehingga kiamat.

b. Jin pula apabila disentuh alat kelamin lelaki dengan alat kelamin perempuan terus mengandung dan beranak terus mukallaf. Begitulah berlaku sehingga kiamat.

c. Bunian atau lebih masyhur dikalangan orang-orang Melayu dipanggil “Orang Ghaib” ialah hasil campuran lelaki atau perempuan Jin dengan lelaki atau perempuan manusia maka anak daripada hasil itu dikenali dengan nama Bunian mengikut manusia dalam beberapa perkara dan mengikut jin dalam beberapa perkara pula. Bunian ini selalu datang kepada manusia dengan memberi berbagai-bagai perkara atau pertolongan antaranya :

1. Keris-keris.
2. Batu-batu yang dikatakan berhikmat.
3. Jenis-jenis ubat-ubatan.
4. Juga mengajar cara-cara berubat samada melalui bomoh, pawang atau bidan.

d. Jin merasuk manusia melalui berbagai-bagai rupa dan cara dan manusia menggunakan khidmat jin untuk membuat khianat kepada sesama manusia pun melalui berbagai-bagai rupa dan cara juga.

e. Seperti juga manusia biasa yang berada dalam tingkat-tingkat Iman, Ilmu dan amalan yang berasaskan kepada Awam, Khawas, Khawasil-khawas, maka jin juga berada dalam gulungan tersebut :

1. Jin Islam yang Awam.
2. Jin Islam yang Khawas.
3. Jin Islam yang Khawasil-khawas.


f. Gulungan jin kafir kebanyakannya beragama Yahudi, Kristian, Komunis dan sedikit daripada mereka beragama Buddha, Majusi serta tidak beragama.

g. Gulungan Jin yang kafir dan jin Islam yang awam segera datang memberi pertolongan kepada manusia samada dalam mimpi atau di dalam jaga. Lazimnya pertolongan itu yang membawa kepada rosak aqidah.

h. Manusia yang bersahabat dengan jin akan berperangai seperti sahabat-sahabat jin yang bertaulan dengannya samada kafir, Islam yang awam, khawas atau khawasil-khawas.

i. Di dunia semua jin boleh melihat manusia manakala manusia yang khawas atau khawasil-khawas sahaja boleh melihat jin selain para Nabi dan Rasul. Sementara di akhirat pula semua manusia mukmin ahli syurga boleh melihat jin manakala jin yang khawas atau khawasil-khawas sahaja yang boleh melihat manusia.

j. Jin Islam yang awam atau jin kafir suka merasuk manusia yang awam dengan berbagai-bagai cara kerana pada pandangan mereka manusia-manusia yang awam itu bukanlah manusia sebenarnya sebaliknya adalah rupa seekor binatang. Manusia yang khawas dan khawasil-khawas, jin tidak dapat merasuk mereka tetapi mereka itu datang pula untuk bersahabat.

k. Manusia yang selamat dari gangguan jin, iblis atau syaitan ialah manusia yang setiap waktu dan masa berada dalam Tauhid Allah melalui lidah, anggota dan hati, iaitu berada dalam aqidah, syariat dan akhlak Rasulullah.

Jalan paling dekat untuk berada dalam tauhid Allah itu hendaklah kita jadikan diri kita beserta mereka-mereka yang setiap waktu masa dan ketika berada dalam Tauhid Allah iaitu Nabi Muhammad s.a.w., sekelian Nabi-nabi dan Rasul a.s., sahabat-sahabat agung Rasulullah, ahli keluarga Rasulullah, para-para kekasih Allah samada yang masih hidup atau yang sudah mati, nescaya akan menyampaikan diri kita zahir dan batin berada dalam tauhid Allah di semua tempat waktu dan masa melalui anggota, lidah dan hati seumpama mereka, yakni selamat daripada gangguan-gangguan jin-jin Islam atau kafir, iblis, syaitan atau seumpamanya.


l. Kata ulama :

“Kun Ma’allah fain lam takun ma’allah, fakun ma’a man ma’allah fainnahu yu shiluka ilallah”

Maksudnya : “Hendaklah jadikan diri kamu serta Allah maka jika kamu tidak boleh jadikan diri kamu serta Allah hendaklah jadikan diri kamu serta mereka yang serta Allah, maka sesungguhnya yang demikian itu akan menyampaikan diri kamu kepada Allah”

m. Diri manusia mukmin yang menjadi kekasih Allah itu menjadi “Kalbu Alam” atau “Jantung “Alam” atau “Pusat Alam” yang dikurnia Allah daya atau kuasa graviti mengikut darjah ketinggian Iman, ilmu dan amalannya disisi Allah. Diri-diri yang lain itu hanyalah di bawah atau di dalam kuasa atau graviti mereka.

* Kata Syeikh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani di dalam kitabnya Yawaqitu wal Jawahir, bahawa bersahabat dan bersekedudukan dengan jin itu sangat keji. Katanya, “Barangsiapa memilih dan melebihkan sekedudukan dengan jin daripada sekedudukan dengan ulama, maka orang itu sangat jahil. Kerana yang lebih ghalib atas jin itu adalah perbuatannya dan perkataannya berlebih-lebihan dan dusta jua seperti kelakuan manusia yang fasik. Maka orang yang berakal lari ia daripada bersahabat dan bersekedudukan dengan dia, seperti larinya daripada bersahabat dan sekedudukan dengan manusia yang fasik.”

Katanya lagi : “Tiada sekali-kali aku lihat akan seseorang yang sekedudukan dengan jin itu beroleh kebajikan kerana asal kejadiannya itu api dan api itu sangat banyak geraknya itu datanglah berlebih-lebihan perbuatan dan perkataan orang itu.”

Katanya lagi : “Bahawa jin itu terlebih keras fitnahnya atas yang sekedudukan dengan dia daripada manusia.”

Berkata Syeikh Muhyuddin Arabi di dalam kitabnya Futuhat. “Adalah orang yang sekedudukan (bersahabat) dengan jin itu tiada beroleh ilmu akan Allah. Kerana jin itu sangat jahil akan Allah dan akan sifat-Nya.” Dan terkadang menyangka oleh orang yang sekedudukan dengan dia itu bahawa segala perkara yang dikhabarkan oleh jin itu daripada barang yang berlaku di dalam alam itu adalah “KARAMAH” daripada Allah Ta’ala baginya.

Maka sangkaannya itu adalah batil dan hanya adalah yang kesudahan pemberian jin kepada manusia itu, bahawa diberitahu akan segala khasiat tumbuh-tumbuhan dan khasiat batu dan khasiat segala isim dan huruf, maka iaitu dibilangkan daripada Ilmu Kimia jua, iaitu ilmu yang dicela oleh syarak kerana meninggal atau membelakangkan ilmu fardhu ain yang dituntut oleh syarak mempelajari serta beramal dengannya.

Katanya lagi : “Sesetengah yang telah terjawab bahawasanya banyak orang sekedudukan dengan jin itu jadilah takabbur atas segala manusia itu dan barangsiapa takabbur dimurkai Allah Ta’ala akan dia dan dimasukkan ke dalam neraka seperti yang tersebut dalam beberapa ayat Quran dan Hadis Nabi s.a.w

03 Jun 2010

MADRASAH ABJAD

ABJAD satu nama yang diberi kepada madrasah bimbingan dan latihan menyatu fahaman dan amalan yang terbit dari ikrar DUA KALIMAH SYAHADAH. MEWARISI PUSAKA KHALIFAH WALI AGAMA ISLAM..menjadi fardu kepada manusia mukallaf melaksana kerjabuat dibangsa kepada agama Islam ,dimulai dengan dua kalimah syahadah mengikut kawa'id syar'iyah yang tidak terhenti pada satu susunan dan langkahan beristiqamah. ikut ALIRAN FAHAMAN AHLI SUNNAH WALJAMAAH dan berdaftar di malaysia.

ASAS
Menyembah, mengabdikan diri,berlindung dan minta tolong kepada Allah bagi melengkapi segala keperluan dunia dan akhirat.

SERUAN
Menyampai seruan dari beberapa seruan Agama Islam yang sampai kepada Hakikat tauhid serta sah iktiqadnya dan muafakat pada zahir syariatul muhammadiyah dan muafakat pada batin tariqatul Ahmadiyah tunai amanah addin milik memerintah segala isi kandungan langit dan bumi dengan sempurna atas kurnia Allah.

TEGUH CITA CITA
Manusia sebagai khalifah Allah
Dengan teguh cita cita menerima amanah addin tertegak pada diri:

1. Beriman dan beradap mukmin.
2. Sejahtera pada pembentukan diri,keluarga,masyarakat dan tanah air.
3. Melazim ehsan disemua tempat dan masa.
4. Menjadi umat yang di terima di dunia dan akhirat.
5. Mati dengan husnul khatimah.

MELAZIM
Melengkapi keperluan kehidupan manusia dunia dan akhirat yang dibangsakan agama Islam, hendaklah melazimi:

1. Adap atau istiadat mula sesuatu.
2. Mengambil langkah sunnah atau langkah hulubalang menang mutlak.
3. Membaca Al Quran, solat sunat, puasa sunat,atau mana2 wirid atau zikir yang telah disusun oleh
ulama muktakbar yang ahli pada babnya sebagai zikir taqarub menjadi tetamu kepada yang wajib.
4. Membaca fatihah hadiah sebagai tabarruk.
5. Menghadiri diri pada mana2 majlis ilmu agama Islam,mendengar,belajar,mengajar,murajaah,mutalaah,
muzakarah dengan mereka yang ahli pada babnya sekiranya ada masaalah dihadapi atau dimuskili..

MENOLAK
Berusaha menolak sesuatu yang tiada asal pada agama Islam:

1. Segala ajaran mempunyai petua atau kaedah disertai sumpah atau mubaiah yang bertujuan mencari
kekuatan atau menzahir hikmah atau mencarik adat.
2. Segala ajaran mempunyai petua atau kaedah disertai pantang larang menepati hukum syarak sama
ada harus atau haram.
3. Segala ajaran mempunyai petua atau kaedah berpegang diatas kebesaran ayat2,wirib2jampi jampian
,doa atau umpama puak2 qadariah,jabarirah,muktazilah,mujassimah,jahmiah,rifdiyyah atau umpama,
sekularisme, kapitalisme,orentalisma,sosialisme atau lain2.
4. Segala ajaran mempunyai petua atau kaedah marah ,dimarahi untuk menzahir hikmah atau mencarik
adat.
5. Segala ajaran yang tidak tahu asal usulnya, dari mana ,dimana,kemana.

PEGANGAN
Pegangan kepada prinsip hidup disetiap tempat dan masa:

1. Berpegang teguh kepada kitabullah.
2. Mengikut sunnah nabi muhammad saw.
3. Sentiasa makan makanan yang halal.
4. Menjauhi diri dari kufur dan maksiat.
5. Menahan diri daripada menyakiti orang lain.
6. Segera bertaubat.
7. Melakukan perkara yang benar semata mata.

MEMELIHARA
Menuntut darjah kemuliaan disisi Allah maka hendaklah sentiasa memelihara:

1. Rahsia diantaranya dan diantara Allah.
2. Barang yang diantaranya dan diantara suruhan Allah.
3. Menanggung kesakitan diantaranya dan diantara segala makhluk Allah.
4. Meraikan bersalah salahan aqal barang yang diantaranya dan segala makhluk Allah.

PENGORBANAN
Muafakat bersatu menjual diri dan harta kepada Allah dan rasul serta menerima SEJARAH PEGANG AMAL DUA LARIAN SERENTAK segera menuju ketempat TUNAI AMANAH ADDIN. Bermujahadah dengan keadaan setempat, mengawal,menjaga,mengurus dengan baik mengikut acuan setiap kehendak naluri manusia menyempurna agenda kehidupan harian menjana dengan adil dan saksama mengikut aliran fahaman ahli sunnah waljamaah nescaya dapat menyelesai segala masaalah dan memati segala hujjah menyempurna menurut kaedah memelihara AGAMA ISLAM,DIRI, KETURUNAN,HARTABENDA DAN TANAHAIR. untuk menjalani kehidupan bahagia disemua tempat dan masa selagi tidak berlaku qiamat.

HARAPAN
Dengan meletak harapan besar mencapai kehendak yang sempurna untuk:

1. Melahir pemerintah yang adil.
2. Melahir pemuda yang hidupnya sentiasa dalam mengerjakan ibadah kepada Allah.
3. Melahir orang yang hatinya sentiasa terikat dengan rumah Allah.
4. Melahir dua orang yang berkasih kerana Allah dimana kedua duanya berkumpul dan berpisah untuk
mendapat keredhoan Allah.
5. Melahirkan orang yang dipujuk permpuan yang kaya lagi rupawan untuk bersatu(berzina) dengannya
melainkan dia menolak dengan berkata" AKU TAKUT AKAN ALLAH"
6. Melahir orang yang bersedekah secara sembunyi atau terang sehingga tangan kirinya tidak
mengetahui apa2 yang diberikan oleh tangan kanannya.
7. Melahirkan orang yang menyebut atau mengingati Allah dengan keadaan tidak ada didalam ingatanya
perkara yang lain lalu menitis air mata nya kerana mengingati sifat jalal dan sifat jamal Allah.

MATLAMAT
Mengumpul seberapa ramai umat manusia mengambil ISLAM SEBAGAI ADDIN..Dengan membesar segala hammah menhadap segala inayah, menyugguh -nyungguh usaha menjadi segala DAERAH DAN WILAYAH perbendaharaan ilmu,perladungan kepandaian ,membuka segala mata kepada memandang CEMERLANG , GEMILANG, TERBILANG, HANDALAN Kelihatan kemegahan bangsa melayu ISLAM ..diantara sekelian alam dan tertinggi martabatnya diantara bani adam bertambah ulama mereka itu diatas segala ulama bertambah nyata agama Islam diatas segala agama.... BAGI MENHADAPI DUNIA PENUH PANCAROBA, BERGOLAK DAN HURUHARA.

ABJAD
TELAH mengambil hak bagi hak nabi muhammad saw dengan persediaan yang ada melengkapkan pertahanan diri dengan latihan serentak rohani dan jasmani menuju ketinggian PUNVAK MENANG MUTLAK.

MUZAKAROH
Selepas peristiwa 13 mei 1969 beberapa tokoh ulama tempatan yang dikira ahli pada babnya mengadakan muzakaroh khas untuk mengatasi masaalah perkauman dan kegawatan dalam tumpuan umat melayu Islam.

KESIMPULAN
1. Bangsa hendaklah menerima agama Islam, maka jadilah bangsa itu bangsa beragama.
2. Tempat letak agama pada diri seseorang itu ialah dilidah ,angota dan hatinya.
3. Seseorang yang telah menerima agama Islam dengan penuh yakin dan wajib fardhu ain menjaga agama yang ada pada dirinya pada bila2 masa dan dimana2
4.Agama Islam akan keluar pada diri seseorang itu setelah menerimanya atas nama murtad ,munafiq, zalim,dan fasiq.
5.Ilmu dan amalan seseorang itu akan menjadi baja yang menyuburkan agama Islam yang ada pada dirinya selama mana ilmu dan amalan itu berada diatas dasar agama dan diambil serta dipelajari dari mereka yang ahli pada babnya.
6. Sebaliknya ilmu dan amalan seseorang itu akan menjadi racun yang membunuh agama yang ada pada dirinya sekiranya ilmu dan amalan itu tersasar daripada agama atau diambil serta dipelajari pula daripada orang kafir , murtad, munafiq,atau orang yang telah rosak aqidah,syariat,akhlak,jihadubinafsi,dan jihadubilmal.
7.Orang2 kafir mudah dikenali peribadinya dengan jelas seperti sami2,buddha,hindu,padri,rahib,danlain2 seumpamanya, tetapi orang murtad,munafiqp payah untuk dikenali. cuma nabi muhammad saw ada memberi tahu tanda2nya iaitu:

1.Apabila bercakap suka berdusta
2.Apabila berjanji suka memungkiri
3.Apabila di amanah sesuatu suka mengkhianati.
4.Apabila berbalah atas kebenaran tidak mahu mengalah ,suka menegak benang yang basah.

Sekiranya berhimpun keempat empat atau salah satu tanda2 diatas lahir pada diri seseorang yang mengaku beragama Islam , itulah dia seorang munafiq yang nyata. jauhilah kamu daripadanya, sesungguhnya orang munafiq itu ditempatkan didasar neraka yang paling bawah.

17 Mei 2010

Hijab antara Manusia dengan Allah

[Ihsan oleh Nur Anwar ] Terima kasih..

Jangan berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya rahmat Allah itu Maha luas. Ada orang setelah mendapat sedikit anugerah lalu tersendat dengan anugerah itu sampai terhijab berpuloh tahun. Ada yang terhijab terus. Ada yang terhijab, kemudian terbuka kemudian terhijab lagi. Itu adalah lumrah. Ianya bergantung sejauh mana kita memerlukan Dia. Ada orang waktu susah sangat hampir dengan Tuhan, siang malam berdoa, bila Tuhan lepaskan kesusahan hati jadi jauh.
"Aku adalah mengikut persangkaan Hambaku.Bila hambaku menujuKu sejengkal , Aku hampiri sedepa...

Dzun Nun Al Misyry ditanya :" Apakah hijab yang paling halus dan yang paling bersangatan?"
Dijawabnya : "Melihat diri dan mengaturnya."
Maksudnya bahawa hijab yang mendinding manusia terhadap Allah adalah hijab yang paling halus dan bersangatan iaitu melihat diri dan mengurusnya. Yakni mengarahkan fikiran, daya dan usaha pada memikirkan alam jasmaniah saja dapat menghambat matahati kita terhadap Allah. Kita bukan tidak boleh mengatur dan mengurus diri tetapi jangan sampai melewati batas sehingga hubungan kita dengan Allah terhalang. Kita diperbolehkan mempunyai rumah yang besar indah dan kenderaan yang bagus tetapi semuanya janganlah sampai melalaikan ataupun melupakan Allah. Apabila keadaan ini menimbulkan kelalaian dan kelupaan maka semuanya ini menjadi hijab-hijab bagi kita.

Bagaimana hati kita akan bersinar apabila sesuatu didalam alam ini melekat di dalam matahati. Bila keduniaan mengawal kita, maka tujuan supaya hati bersih menghadap sempurna kepada Allah pasti tidak akan berhasil. Bila dunia ini terpaut dalam hati maka hati akan menemui kegelapan. Sama seperti kaca/cermin apabila berdebu begitu banyak dan melekat kuat, maka cermin itu sudah tidak dapat menangkap gambar objek kedalamnya. Bila hati sudah terpaut kuat kepada dunia yang fana ini akan sulitlah hati kita mengarah kepada tujuan menghadap Allah dengan syuhud dan tajjali seperti yang dimaksudkan dengan ihsan didalam hadis Rasulullah s.a.w.

Apabila hati gelap maka sinar makrifat akan jauh darinya. Sebab hati, mukanya hanya satu. Bila muka yang satu itu menghadap dunia maka jauhlah ia dari Allah. Kita dalam mengerjakan ajaran agama, pada hakikatnya bukanlah sekadar patuh dan taat kepada Allah tetapi juga pada hakikatnya kita berjalan kepadaNya dengan erti hubungan menjadi semakin dekat, baik dalam ilmu, keyakinan dan seluruh perasaan. Ini dapat kita capai bila kita memutuskan hubungan dengan kehendak-kehendak hawa nafsu dan syahwat. Tetapi bila kita berada dalam tawanan hawa nafsu, setiap kali kita bangun berdiri untuk melangkah, setiap kali pula kita jatuh tersungkur. Setiap kali berkumpul dalam hati kita keinginan yang kuat untuk berjalan kepada Allah tetapi pada waktu petangnya tentera-tentera syahwat menyerang pertahanan, sehingga benteng pertahanan yang dibina runtuh. Demikianlah sulitnya kita menuju kepada Allah apabila kita masih terikat dengan ikatan syahwat.
"Sengatan beberapa ekor kala atas tubuh-tubuh yang luka lebih enteng dari sengatan syahwat-syahwat atas hati yang meghadap kepada Allah"

Allah mewahyukan kepada Nabi Daud:
"Hendaklah engkau berikan peringatan kepada kaum engkau tentang bahaya seluruh syahwat kerana segala hati yang bergantung dengan segala syahwat keduniaan berarti akal orangnya terdinding, lagi jauh daripadaKU"

Jika kita tidak mampu menghalau serangan nafsu setelah mengamalkan beberapa macam zikir. Mohon kepada Tuan nafsu itu agar ia mengalangnya. Mohonlah dengan berkat solawat. Setiap doa tak kan naik tanpa didahulukan dengan solawat.

Kalau masih tak berjaya juga mohonlah kepada murysid kita agar dia scan balik diri kita dan lihat dimana silapnya. Kadang-kadang kita ada tersilap dengan guru sikit aje. Waridah dah hilang. Dengarlah segala nasihat dan petuanya. Kalau zaman dulu siap jadi hamba pada guru lagi. Jika guru suruh pergi minta sedekah terpaksalah pergi. Zaman sekarang tak tahu lak pulak. Zaman sekarang orang dah terlalu cerdik. Bila minta pengorbanan sedikit dah kata guru ambil kesempatan. Sedangkan kita tidah tahu apa hikmah disebaliknya.

Ada bermacam-macam kaedah untuk menyucikan diri.
Ada secara zikir mengikut pengajian suluk tariqat masing-masing.
Ada secara tahali dan takhali.
Ada dengan cara berbakti.

Macam orang yang sudah mempunyai jawatan tiba-tiba hilang kerja, maka mohonlah bersungguh-sungguh agar dikembalikan jawatan tu. Kita hilang jawatan mungkin kita ada buat silap. Ataupun orang tengah sihat tiba-tiba jatuh sakit. Puas berubat tak sembuh-sembuh .Janganlah putus asa mungkin belum sampai masanya lagi. Bersyukurlah dengan apa yang kita ada.

Sekurang-kurangnya kita tahu kita berada di dalam ujian tuhan dan tidak kufur dengan nikmatnya yang tidak terbatas.

Yang penting kita mesti berwuduk zahir dan batin sebelum menghadap kepadaNya.

Peri pentingnya memahami peranan dan pengertian salasilah sebelum dan sesudah menghayati sesuatu Tariqat

[ihsan oleh Fakir Amal (al naqsyabandi) ]

Bila di sebut Tariqat maka Mursyid adalah perkara yang amat mustahak. Tariqat ialah perjalanan menuju Allah Ta’ala manakala mursyid lah yang memimpinnya ke arah tujuannya itu. Kalau Tariqat di ibaratkan sebagai sampan manakala Mursyid pula di ibaratkan sebagai nakhodanya yang memimpin haluan sampan tersebut. Kedudukan Mursyid di dalam sesebuah jamaah tariqat tidak keterlaluan faqir katakan adalah ibarat nyawa bagi sebuah jasad. Tidak hairanlah ada ahli sufi yang berpendapat : “Rahsianya(intipati perjalanan tariqat) itu adalah pada masya’ih bukannya pada zikir”. Dan berkata Syeikh Tajaldin Naqsyabandi dan perkataan ulama-ulama sufi yang lain juga ada menyatakan senada dengannya iaitu : “Barang siapa tiada baginya syeikh(guru mursyid) maka syaitanlah syeikhnya”. Perkataan di atas merujuk kepada guru kerohanian iaini yang menjalani jalan tariqat keruhanian.

Kepentingan mursyid di dalam perjalanan keruhanian juga samalah dengan orang yang menunjuk jalan dan sudah mahir dengan perjalanan itu memimpin jalan bagi orang yang belum pernah berjalan ke destinasi tersebut bahkan tiada tahu seluk beluknya maka mengikuti arahannya serta mempercayainya adalah suatu kemestian. Maka dalam menentukan keabsahan dan keesahan terhadap kepakarannya dalam seluk-beluk perjalanan amat mustahak di teliti supaya terselamat daripada bahaya kesesatan samada bagi pihak pengikut mahupun dirinya sendiri.

Dalam menentukan keesahan atau kebenaran seseorang mursyid mengikut adab syariat dan adab tariqat terdapat beberapa perkara pokok. Cuma yang ingin faqir ketengahkan ialah peranan salasilah tariqat kerana ianya sering dilupai oleh kebanyakkan orang mungkin di kaburi atau dilupai oleh cerita-cerita kiramah seseorang yang dianggap mursyid itu atau terlalu terpengaruh dengan rupa atau cerita wara’ atau kealiman dan sebagainya. Bukan faqir maksudkan wara’ dan alim itu tidak penting ianya juga penting tetapi yang paling kurang di lihat dan di teliti ialah tentang sanad salasilah Tariqat guru tersebut.

Banyak peristiwa pincang yang berlaku dalam sesuatu jamaah Tariqat sebenarnya berpunca daripada masalah ini. Kebanyakkan ahli tariqat yang faqir jumpa juga sering meringan-ringankan perkara ini. Faqir kurang pasti mengapa tetapi yang nyatanya dari sebab ini lah berlaku perselisihan , perpecahan , penyelewengan , dakwa mendakwa.Dan timbul –lah persoalan iktiraf dan tidak iktiraf dan akhirnya menjurus kepada persoalan mencari ganti syeikh yang tak habis-habis di persoalkan siapa pengganti sebenar ? Ianya juga berpunca dari masalah kejahilan dan masalah mazmumah di dalam hati yang belum selesai dan syaitan memang suka mengocah persoalan ini agar hancur organisasi sesebuah jamaah Tariqat. Sebab itu faqir mengingatkan diri faqir sendiri dan semua sahabat-sahabat faqir di sini (BSC) agar di tentukan susur galur salasilah Tariqat sebelum mahupun sesudah menghayati sesuatu amalan tariqat.

Faqir berpendapat mungkin seseorang yang ingin bertariqat mungkin kurang di dedahkan atau tak tahu menahu kepentingan peranan salasilah. Sedangkan berguru tariqat yang tidak bersambung salasilahnya dengan ulama-ulama asalnya sehingga bersambung dengan Rasulullah s.a.w. hukumnya haram kerana terputus wasilah dalam menyampaikan matlamat.Sebab itu bukan mudah untuk kita berguru dengan seseorang kecuali telah di buktikan bahawa guru yang kita anggap sebagai guru itu memiliki sanad salasilah tariqat yang mutashil(bersambung) sehingga Rasulullah s.a.w. di samping kita melihat kepada faktor-faktor lain yang selari dengan adab syariat dan adab tariqat.

Apakah yang di maksudkan dengan salasilah tariqat dan mengapa salasilah tariqat itu penting ?
Seseorang yang di anggap mursyid ialah seseorang yang telah berguru sebelumnya dengan gurunya terdahulu dan sehinggalah bersusun sampailah kepada tabi’in kepada sahabat dan akhirnya bertemu kepada Rasulullah s.a.w. dan mestilah di dokumenkan dalam bentuk bertulis dan di sahkan oleh gurunya yang terdahulu dengan ‘memberi izin’ bagi menjalankan atau menyebarkan tariqat tersebut serta mahsyur sanadnya mengikut adab tariqat.

Salasilah ini penting kerana beberapa sebab iaitu :
i. bagi menentukan seseorang murid menerima keberkatan (kesan ruhaniah) atau limpahan ruhani yang bersambung dengan syeikhnya itu terus bersambung sehinggalah persambungannya itu benar-benar dari puncanya yang sebenar dan teratasnya iaitu Rasulullah s.a.w. Sekiranya salasilahnya terputus atau tiada memiliki sanad salasilah yang sah maka bagaimana seseorang itu dapat menerima limpahan keberkatan imdad bir ruhaniah dari segala masya’ih yang terdahulu sehingga Rasulullah s.a.w yang dengannya menyampaikan kita kepada jazbah fillah(tarikan kepada Allah iaini zuk fana’fillah dan baqo’billah).

ii. Bagi yang terputus wasilah ruhaniahnya maka terputuslah apa yang di panggil rabithah mursyid (pertalian mursyid).Jika tiada baginya rabithah mursyid maka tiada terpelihara perjalanannya itu daripada tercedera terhadap gangguan musuh-musuh bathin seperti iblis, syaitan jin dan segala perkara yang membahayakan perjalanan ruhaninya khususnya dalam meniti perjalanan di alam malakut.Sebab itu kita dengar bahaya-bahaya penipuan di alam ruhani yang sering kita dengar seperti membesarkan diri mengakui diri sudah capai ke mertabat wali,mertabat sultanul auliya, sudah dapat tahap yang tinggi dan suka menggelar diri , taa’sub , sudah pandai menilik dan di katanya sudah dapat kasyaf , pandai mengubat kerana sudah disangkanya dapat maunah dan akhirnya melalutlah kepada gila dan sebagainya. Sedangkan rukun bagi seseorang mursyid atau khalifah itu ialah sangat merendahkan diri (tawadhu’) bagaimana pula dia nak mengaku dirinya lebih atau macam-macam lagi.Satu perkara lagi sifat orang yang terputus sanadnya suka kondem orang lain yang nyata kondemnya itu tidak jujur dan terlalu taasub dengan amalannya saja kononnya amalannya yang sah , betul dan orang lain itu semuanya tak betul kalau betul pun tak sempurna macam dia punya.
Sebenarnya 2 perkara ini selalu dilakukan bagi orang yang lalai dalam zikrullah atau memang sudah ada cacat dalam perjalanannya.

iii. Sebagai bukti atau hujjah yang sah bahawa seseorang itu mendapat izin dari syeikhnya yang terdahulu bagi menyebarkan ajaran tariqatnya itu kerana sanad salsilah yang mahsyur dan mutashil dengan Rasulullah s.a.w. itu seumpama otoriti yang sangat berwibawa tanpa dapat di pertikaikan lagi dari sudut keizinan dan kelayakannya dalam memimpin murid.Dan inilah adab yang amat penting dalam tariqat.

iv. Salasilah juga adalah suatu keesahan yang menyatakan bahawa tiada berlaku perubahan atau pindaan atau saduran darihal penyampaian ilmu Tariqat itu sendiri dan lazimnya salasilah ini di kepilkan bersama ajaran-ajaran,adab-adab serta segala keterangan maqam-maqam zikir tariqat yang di rekod bersama dari turun temurun supaya tidak berlaku sebarang penyelewengan atau di ciplak dari mana-mana ajaran yang bertentangan dengan asal .


Pesanan Ulama sufi yang muktabar dalam kepentingan mengetahui salasilah tariqat .

1. Kata Syeikh Amin Kurdi dalam kitabnya Dhiya’ul Iman :
“Ketahuilah bahawa seorang murid di jalan Allah yang mahu bertaubat dan menghilangkan sifat kelalaiannya wajiblah ia mencari seorang syeikh yang ada di zamannya. Iaitu seorang yang sempurna suluknya(perjalanannya) syariat dan haqiqat mengikut Al Qura’an dan Al Hadis juga sentiasa berpandukan para Ulama hingga sampai ke maqam ar-rijalul kamal. Syeikh itu telah sampai kepada keredhaan Allah dan suluknya juga adalah di bawah pimpinan seorang mursyid yang mempunyai persambungan salasilah hingga ke nabi s.a.w. Ia juga mestilah telah mendapat izin dari syeikhnya untuk menyampaikan ajarannya kepada orang lain. Ia juga mempunyai ilmu dan makrifah yang benar dan bukan jahil dan bukan kerana di dorong oleh keinginan nafsu dirinya.Oleh yang demikian syeikh yang arif yang mempunyai persambungan salasilah itu adalah merupakan wasilah kepada Allah bagi seseorang murid itu. Syeikh itulah juga merupakan pintu menuju kepada Allah yang akan di lalui oleh murid itu. Sesiapa yang tiada mempunyai syeikh yang memimpin dan mengasuhnya maka syeikhnya adalah syaitan”.

2. Katanya lagi :
“ Tidaklah boleh seseorang itu membuat bai’ah dan memimpin para murid kecuali setelah ia mendapat tarbiyah dan ke izinan mursyidnya seperti yang di tegaskan oleh para masya’ih. Orang yang berbuat kerja demikian itu padahal ia bukan ahlinya yang sebenar , akan lebih banyak merosakkan dari memberi kebaikan. Ianya akan menanggung dosa sebesar dosa seorang perompak kerana ia telah memisahkan murid dari syeikh yang arif sebenarnya”.

3. Berkata Syeikh Amin Al Kurdi dalam kitab Dhiya’ul Iman fi Thariqah Ar Rahman pada membicarakan kepentingan salsilah iaitu:
“Adalah sangat wajar bagi para murid di jalan Allah itu untuk mengetahui salasilah para syeikh mereka itu hingga sampai kepada nabi Muhammad s.a.w. Bila kedudukan syeikh mereka jelas dan benar ada persambungan salasilah hingga kepada nabi s.a.w. maka jika para murid itu mahu mendapatkan pertolongan limpahan ruhaniah dari syeikh mereka itu mereka akan berhasil apa yang dimaksudkan . Orang yang salasilahnya tidak bersambung hingga kepada nabi s.a.w. maka orang itu adalah terputus dari limpahan ruhaniah tersebut. Oleh itu orang itu bukanlah menjadi waris bagi Rasulullah s.a.w. dan TIDAK boleh di ambil bai’ah dan ijazah daripadanya”.

4. Kata Syeikh Abdul Wahab Asy Syaroni di dalam kitab Madarijus Salikin :
“Hei para murid ! Semoga Allah memberkan keredhaan Nya kepada kami dan kamu. Sesungguhnya orang yang tidak mengetahui bapanya dan datuknya di dalam jalan ini (ilmu Tariqat) ,maka ia adalah buta. Mungkin jua orang yang tersebut di nasabkan(di binkan) kepada orang lain yang bukan bapa sebenarnya. (jika begitu) maka bermakna ia termasuk ke dalam apa yang di sabdakan oleh nabi s.a.w. : ‘Allah melaknat orang yang dinasabkan kepada orang lain yang bukan bapanya yang sebenar”.

Maksud bapa dan datuknya ialah para guru-guru yang terdahulu (para masya’ih) kerana guru mursyid kita ialah bapa ruhani manakala guru kepada guru kita adalah datuk ruhani kepada kita sehingga lah seterusnya sampai kepada Rasulullah s.a.w. iaitu sumber segala ruhani iaini benih sekelian alam dan induk rahmat Allah Ta’ala dengannya melimpah sekelian rahmat Allah atas setiap kejadian.


5. Kata Syeikh Abdul Qadir Al Jilani dalam kitabnya Sirrul Asrar :
“Syeikh Abdul Qadir Al Jilani berkata : Sahabat r.a. adalah ahli jazbah(ahli tarikan bathin) kerana kekuatannya menemani nabi s.a.w. Tarikan bathin tersebut menyebar kepada syeikh-syeikh tariqat dan bercabang lagi pada salasilah yang banyak sehingga semakin melemah dan terputus pada kebanyakkan umat, yang tinggal adalah orang-orang yang meniru-niru sebagai syeikh tanpa makna kedalaman dan tersebarlah kepada ahli-ahli bid’ah”. Ini menunjukkan ‘karan’ atau jazbah fillah akan turun kepada kita melalui susur jalur salasilah tariqat.

6. Kata Syeikh Abdul Qadir Al - Jilani lagi :
“Bagaimana cara menentukan Tasawuf yang benar ? Caranya dengan dua macam : (Pertama) lahiriahnya(Kedua) Bathinnya.Lahiriahnya memegang teguh pada aturan syariat dalam perintah mahupun larangan.Bathinnya mengikuti jalur suluk dengan pandangan hati yang jelas bahawa yang di ikuti adalah nabi s.a.w. dan nabi s.a.w. merupakan perantara antara dia dengan Allah.Dan antara dia dengan nabi adalah ruh ruhani Nabi Muhammad s.a.w. yang mempunyai jismani pada tempatnya dan ruhani pada tempatnya, sebab syaitan tidak akan menjelma menjadi nabi dan itu merupakan isyarat pada orang – orang salikin agar perjalanan mereka tidak dalam keadaan buta. Pada fasal ini terdapat tanda-tanda yang sangat halus untuk membezakan mana golongan yang benar dan yang salah , yang tidak dapat di temukan kecuali oleh ahlinya”.

Maksud di atas ialah bagi menentukan tasawuf yang benar ialah zahirnya mengikut syariat dan bathinnya mengikut jalur suluk (yaknii perjalanan yang berantai salasilah sehingga berakhir kepada nabi s.a.w.) supaya hingga jelas hati murid mempertemukan kepada nabi Muhammad s.a.w. dan Nabi sebagai washitah(perantara) yang menyampaikan kepada Allah iaini makrifat terhadap Allah dengan sebenarnya.Kerana jika terputus salasilah bereti terputuslah wasilah dan akibatnya akan kelirulah perjalanannya dan payahlah seseorang itu membezakan dapatan ruhaniah yang haq dengan yang bathil kerana perkara ini amat lah halus lagi sukar.Jangan di kata cahaya itu lah diri dan jangan disangka bayang itulah sebenar.Jangan dikata zuk itulah muktamad kerana syaitan masih boleh memberi kan rasa zuk dan segala pembukaan yang palsu ! Maka berlindunglah kita kepada Allah dari segala tipudaya makhlukNya.Maka tiada yang mengetahuinya melainkan ahlinya yang berjalan mereka itu mengikut akan mengikut orang yang mengikut akan nabi s.a.w. pada zahir (syariat)dan bathinnya(rabithah ruhaniah yakni tariqat yang menyampaikan haqiqat).Bak kata perpatah : Jauhari jua yang mengenal manikam.


Rumusan

Justru itu hendaklah kita fahami bilamana di katakana ‘Tariqat’ maka disana ada di dalamnya beberapa perkara yang tidak terpisah ibarat ‘irama dan lagunya’ iaitu :
1. Mursyid berkait dengan
2. salasilah dan keizinan berkait dengan
3. rabithah ruhaniah(pertalian) berkait dengan
4. adab-adab berkait dengan
5. zikir dan maqam-maqamnya berkait dengan
6. muraqabah dan musyahadah terhadapNya

Kesemuanya ini adalah wasilah pokok dalam Tariqat dan keenam-enam inilah di panggil ‘Tariqat’. Ke enam-enam perkara di atas juga ada yang di zahirkan dan di dokumentasikan dan ada yang di bathinkan iaini tidak di nyatakan atau tidak di dokumentasikan khusus yang berkait dengan dapatan atau penemuan ruhaniah yang menjadi adab supaya tidak dinyatakan. Namun perkara seperti salasilah dan ke izinan adalah perkara yang wajib di nyatakan supaya di ketahui akan nasab ruhaniahnya dan supaya tidak kita di anggap anak yang tiada bernasab seperti yang dinyatakan oleh Syeikh Abdul Wahab Asy Syaroni r.h dan yang lebih di takuti kita menyeleweng dari usul dan kaedah kaum sufi secara tidak kita sedari.

Tidak ada keringanan dalam perkara salasilah ini , jangan pula ada pihak yang berkata salasilah ini tak penting yang pentingnya ialah haqiqatnya atau makrifatnya. Jika ada pihak yang berkata begitu ;terus segera tinggalkan orang itu kerana orang itu telah mengajar suatu pemahaman yang tidak betul yakni menyalahi usul mengikut kaum sufi. Kerana bagaimana buah itu lahir tanpa pokok dan benihnya ? Sebab itu kata Ulama sufi : “Barangsiapa menyalahi ushul maka diharamkan dia daripada wushul(sampai kepada makrifat Allah Ta’ala dengan makrifat sebenarnya)”. Iaini barang siapa menyalahi perkara-perkara yang telah di sepakati oleh kaum sufi maka terlerai dia daripada jalan mereka.Bersama kita berlindung dengan Allah Ta’ala daripada bahaya-bahaya ini dan tipudaya makhlukNya.

06 Mei 2010

20.Rabitah dan Wasilah

Ringkasan Tazkirah oleh Syaahil Hamid Ramadhan

- Dalam Islam pokok ilmu yang besar ada tiga, dalam Kitab Matan Ghurbiyah:
o wata ‘alliman ilman as sahih tho ‘a tan iaitu ilmu yang mengesahkan taat. namanya ilmu feqah / ilmu syariat. Ada 5 rubu’ / cabang, iaitu:
a. ilmu bab taharah (bersuci)
b. ilmu bab ibadah
c. ilmu bab munakahad (nikah-kahwin)
d. ilmu bab muamalat (jual-beli)
e. ilmu bab siasah (pemerintahan negara)
o ilmu aqidah = wa ‘aqi datan. Dalam bab ini terbahagi kepada dua. kemudian dipecah kepada tiga. semua ada 5 bahagian.
o ilmu yang dibangsakan kepada gonyoh hati yakni menyucikan hati kepada bersih hati. Ada 4 rubu’ / cabang. 2 cabang fardhu ain dan 2 cabang fardhu kifayah.

- ilmu yang mengesahkan taat iaitu ilmu feqah / ilmu syariat. kita nak buat amal biar amal yang sah. buat amal banyak tapi tak sah tak guna sikitpun.
- Sebelum belajar ilmu taharah (bab bersuci) kena faham tentang air (air mutlak, air musyammas, air mustakmal, air mutanajjis). kena kenal najis – najis dan kenal hadas supaya tak lekat supaya buat ibadah sah taat. kena faham tentang tayammum.
- dalam bab ilmu ibadah. kena kenal sembahyang, puasa, zakat dan haji untuk kita buat ibadah. takut terjatuh dalam bab bida ‘ah dhola lah dan bida ‘ah karohah.

o Bida ‘ah Dhola lah iaitu kita tambah satu ibadah sama ada sunat atau wajib yang tidak dibuat oleh Rasulullah SAW, tidak dibuat oleh para sahabat dan tidak dibuat oleh ulama – ulama muktabar. Kerana ianya akan menjadi syirik / kufur, terkeluar dari Islam jadi sesat, jadi zindik. Sama ada menambah yang bukan wajib jadi wajib bukan asalnya daripada kaedah feqahnya atau kita kurangkan yang wajib menjadi tidak wajib.

o Bida ‘ah Karohah pula kita memberatkan yang ringan daripada yang wajib atau yang ringan daripada yang lebih berat. Misalnya: hari ni Jumaat. kita awal ke masjid, lepas solat tahyatul masjid kemudian tok bilal azan, kita pun bangun buat sunat sebelum jumaat 2 rakaat. Lepas solat jumaat, oleh sebab ada hal / kerja maka terus balik rumah tak buat sunat selepas solat fardhu jumaat. Hukumnya bida ‘ah karohah, sebab solat sunat sebelum jumaat hukumnya ghoirul muakkad tetapi solat sunat selepas fardhu jumaat itu hukumnya sunat muakkadah. Begitulah juga dalam solat maghrib. Ini hak kita kena kenal dalam bab ibadah.

- dalam bab munakahad. kadang – kadang kita belajar ilmu nak menikah tetapi tak belajar ilmu tentang bab cerai dan ilmu sebab jatuh talak.
o contohnya: kita menyerupakan anggota tubuh isteri kita dengan mak kita atau dengan mahram kita, dengan adik / kakak kita. Maka jatuh hukum zihar dan kita kena puasa 60hari berturut – turut atau beri makan 60 orang.
o Contoh: kita pergi dengar ceramah. dalam ceramah tu kita dengar orang ni kata orang tu kafir dan orang tu kata orang ni kafir. kitapun kata: serupa mamak tu kafir. Dalam kita tak sedar jatuh dah Islam kita. Maka jatuh talak isteri kita, kita tak tersedar. Apabila kita murtad maka tertolaklah isteri kita secara tak sedar. kita balik rumah, kita buat macam biasa jugak, macam isteri kita lagi. Lepas tu keluar anak – anak macam mat rempit, bohsia dll (yang tidak baik perangai / tingkahlaku). Kita dok marah kepada mereka tapi tidak sedar punca dari kita. Kita melahirkan orang – orang ini dengan cara yang tidak betul. Hal ini berlaku sejak 1983 dan berlaku hingga hari ini. Masalah mengkafirkan jiran berlaku sejak 1983 sehingga ke hari ini. kita tak sedar sebab itu habis punah ranah masyarakat.
- dalam bab lian. bab elat. kita kena belajar dalam bab ilmu munakahad ni.

- Lepas tu kita kena tahu bab muamalat (jual-beli). kena tahu cara – cara nak berniaga. cara – cara nak membeli barang.
o dalam mazhab shafi ‘ie, kena tahu hukum jual-beli ada 5 perkara. bukan boleh suruh budak – budak kecil, hukumnya riba’. kena pula membeli yang tidak ada akad jual-beli. kita marah ke riba’ tetapi hari-hari kita terlibat dengan riba’. Lihat di dalam Kitab Mutlo ‘al Badri.

- Lepas tu baru cerita bab ilmu siasah yakni bab pemerintahan negara. Dalam pemerintahan negara pertama sekali kita kena faham kaedah ekonomi, ketenteraan, keselamatan dalam negara, hukum jenayah, hukum hudud, hukum qisas dan hukum takzir. ilmu ni biasanya pemimpin je kena faham sebab ilmu ni ilmu fardhu kifayah.

- Itulah dia: wata ‘alliman ilman as-sahih tho ‘atan iaitu hendaklah kamu tuntut ilmu yang mengesahkan taat. Bermula dari situ kena lihat dulu, yang aku nak buat / nak dengar / nak bercakap ni hukumnya apa dia ? wajib ke, sunat ke, harus ke, makruh ke, haram ke ? Bila orang dah baligh dia tak boleh lari dari hukum syara’ tersebut itu. Tidak sempurna hukum syara’ tersebut melainkan ada syara’ wadho ‘i nama dia iaitu syarat, sebab, mani’, sah dan batal.

o contohnya: sembahyang isya’ hukumnya wajib. kemudian datang uzur bagi perempuan, atau bagi laki-laki mari mani’ misalnya kena tahi cicak. boleh sembahyang atau tidak ? jawabnya tak boleh buat sembahyang sebab ada mani’ walaupun hukum asalnya wajib, kena tengok dulu hukum wadho ‘i. Maka nak sembahyang, yang perempuan kena bersuci dulu, kena mandi hadas dulu. yang laki-laki pula kena basuh dulu tahi cicak ataupun ambik wudhu’ semula.

- Dalam bab ilmu aqidah = wa ‘aqi datan. Dalam bab aqidah tambatan diri kita dengan Allah SWT dengan ilmu untuk kita bezakan antara makhluk dengan tuhan. Kita boleh kenal dan kita boleh beza dengan Tuhan. Ini kita panggil ilmu akal supaya kita dapat beza yang mana makhluk dan yang mana Tuhan supaya kita tidak sembah makhluk.

o apa makna Tuhan ? Maknanya: terkaya ia daripada barang yang lainnya dan berkehendak barang yang lainnya kepadaNya (yakni Tuhan).

o Syarat nak kenal Tuhan ke tidak, kena ada 3 ciri. Pertama: dia jadikan alam ni tak pakai alat (wasitah). Kedua: jadikan alam ini tak ambil faedah daripada dia (yakni alam). Ketiga: harus dia menjadikan alam. dia nak jadi boleh, dia tak nak jadi pun boleh. tidak ikut kehendak kita. Tidak ada sangkutpun apa yang kita minta dengan apa yang Tuhan nak beri. tak boleh kata, sebab aku minta rm10 maka Tuhan beri ke aku rm10 misalnya. Tetapi kenapa kita minta jugak ? sebab tugas kita sebagai hamba, meminta.

o Nak jadi hamba ni kena ada 3 perkara: pertama: teguh cita – cita, kedua: ada rangkaian doa, ketiga: ada ikhtiar-usaha. Tidak boleh buang salah satu apabila dia tu bergelar hamba.

- wamuqostia qolbi hai tsu lat iaitu ilmu yang dibangsakan kepada gonyoh hati kepada bersih. Macam kitalah, kalu nak basuh baju tak boleh guna arang walaupun arang boleh guna untuk gonyoh gigi. ilmu ke-3 ini ilmu untuk membersihkan hati, ada 4 rubu’ / cabang. 2 fardhu ain dan 2 fardhu kifayah.

- Fardhu ain. Pertamanya kita kena kenal jahat hati. Sebelum kenal jahat hati kena kenal punca terbit jahat. Punca terbit jahat itu daripada darah yang bercampur iblis. Punca darah bercampur iblis pasal tok nenek kita terima ilmu secara bersyarat.

o ciri – ciri ilmu bersyarat. manusia nak jadi raja / panglima / pendekar / hulubalang / tok mudim / tok pawang (jaga kawasan) / tok bomoh (umum) / tok dukun (khusus)
- ilmu bersyarat kerana terlibat perjanjian dengan jin sama ada jin kafir, jin fasik atau jin islam. Dalam bab aqidah semuanya ini termasuk dalam syirik.

- Penyakit yang paling lekeh apabila terlibat dengan jin ini ialah buruk sangka. Ini penyakit yang terbit dari saka-baka. Orang lain dak kena belaka, kita sorang je yang kena. tok gurupun kita kata dok kena jangankan anak murid. dok berdengki sesama sendiri. dok cemburu dak tentu pasal. inilah masalah dalam masyarakat.

o kalau ada 5% maka kalau tok guru, dia akan kata tok guru lain dok betul belaka. kalau ustaz gitu jugak. kalau tok bomoh gitu jugak. kalau engineer pun gitu jugak. dia sorang je yang betul, orang lain dak betul belaka.

o kalau ada 25% kuat maka dia akan jadi panas baran. lambat tersalah, nak pukul saja. jadi garang. masa baik, baik sangat. kalau mari marah sampai tak sedar ke diri. kalau pukul anak dak sedar rotan di tangan.

o kalau ada 50% kuat maka dia akan jadi serupa tok atau keturunan yang dulu. tidak belajar tetapi pandai. tidak belajar silat boleh bersilat. tidak belajar bomoh tetapi boleh bomoh (berubat orang). tidak belajarpun. dulu gitu sekarang ni pun gitu jugak tetapi pandai.

o kalau ada 75% kuat maka (kebiasaannya) anak cacat. antaranya penyakit down sindrom, cuba tengok lah.. Paling kurang anak dia exzyma atau cacat.

o kalau ada 100% kuat maka kalau isteri mengandung 9 bulan, tiba – tiba kita bermimpi orang nak mari ambik anak. mimpi tok guru / tok kenali datang ambil anak, selepas itu anak dalam kandungan hilang. Ada 5 bulan / 6 bulan mengandung tapi anak tiba – tiba hilang. tak ada di dalam perut. Kalu ada penyakit ni jadi wajib berubat sebab telah jatuh rosak aqidah, rosak syariat dan rosak akhlak. Kena berkira bab berubat dulu !

- Buang dulu segala sifat tercela (mazmumah). Nak buang macam mana ? Jangan bagi ada sedikitpun. dan kemudian diganti dengan sifat terpuji (mahmudah).

- Selepas daripada itu barulah boleh kita cerita bab maqam dan martabat. Barulah boleh cerita pasal murabbi. barulah boleh cerita pasal rabitoh dan wasilah.
- kini orang panggil ustaz. orang panggil tok guru atau orang panggil kiai. tetapi sebelum 700 tahun diperintah oleh penjajah orang panggil murabbi.

o murabbi maksudnya pendidik rohani dan jasmani seorang guru kepada murid. atau ada jugak orang panggil muaddi iaitu orang yang mentarbiyah murid dia supaya beradab. ataupun ada orang panggil ahli rabbani iaitu orang yang menjadi wakil Allah untuk memperkenalkan Allah kepada manusia dan menjadi wakil manusia untuk membawa manusia kepada Allah. sesuai dengan firman Allah Taala: duribat ‘alaihi zillatu ainama tsu qi fu bi hablin minallah wa hablin minannas. ataupun orang panggil ‘mursyid’.

o Allah SWT kata ‘celaka’ kepada orang yang tidak ada hubungan dengan Dia dan tidak ada hubungan dengan manusia. Yakni hubungan dengan manusia untuk mengajak mengenal manusia kepada Allah Taala. iaitu orang – orang mukmin yang mengajak manusia kepada Allah.

o Sesungguhnya, Allah Taala menjadikan manusia 2 derajat. Pertama: Allah jadi manusia sebagai sebaik – baik kejadian (ah sani taq wim) yakni martabat. Kedua: Allah jadikan manusia sebagai sejahat – jahat kejadian, lebih jahat daripada tumbuh-tumbuhan, tanah, binatang yakni martabat manusia ini.

Kesimpulan: Oleh kerana kita nak jadi baik maka kita kena cari murabbi.

- Orang nilah yang kita akan jadikan sebagai rabitoh dan wasilah. makna Rabitoh dari perkataan robtun yakni tempat kita tambat diri kita untuk sampai kepada Allah.

o Pada suatu hari Syeh Daud Fatani tengah gobek sirih. Hebatnya Syeh Daud ni dia mengajar tak pakai kitab tetapi dia boleh tahu muka surat berapa, perenggan berapa. Antara kitab karangan beliau ialah Kitab Minyatul Musalli, yang mana dia pakai jari telunjuk dia untuk mengarang. cahaya dia dari kuku dia, dakwat dia keluar dari jari telunjuk dia. Raja Melayu pada masa itu tak berapa yakin dengan kitab dia tu. Maka dia masuk ke bilik Syeh Daud di Mekah, dia tengah mengarang kitab pakai jari telunjuk je. ada ke orang masa ni, boleh buat begitu ? Sebab itu tok guru dulu, dah meninggal beratus tahun tetapi kitab dia masih orang menadah (mengajar-belajar). Inilah contoh murabbi, Syeh Daud Fatani orang yang jadi pendidik.

- Apabila kita nak mengaji satu – satu bab dalam ilmu agama ni dia ada ma badi 10. Kena tanya 10 perkara dulu. kena ada tok guru. baru tak terbabas
o Istilah. kena tahu makna Rabitoh. makna dari segi syara’ dan makna dari segi bahasa.
o Hukum belajar tu apa dia ? wajib / sunat / harus / makruh / haram.
Rabitoh itu adalah guru dan wasilah itu martabat pada guru.
dari segi bahasa, Rabitoh ialah tempat kita tambat diri kita untuk belajar. belajar tengok, belajar cakap dan belajar ikut. dan belajar yang paling hebat ialah aku dengar dan aku nak ikut (patuh / taat).
wasilah pula martabat. sampai tak kepada Allah ?

o Zaman Rasulullah. ada seorang sahabat jumpa dengan Rasulullah SAW nak ganti Bilal azan. Saidina Bilal bin Rabah ni orang kulit hitam – orang arab badwi. “Ya Rasulullah boleh dak aku nak ganti satu waktu dalam sehari”. Rasulullah kata tak boleh. tak apalah, boleh dak satu kali je seminggu. Rasulullah kata tak boleh. sebulan sekali. Rasulullah kata tak boleh. setahun sekali. Rasulullah kata tak boleh. Ya Rasulullah, zaman mu ni. aku nak ganti Bilal sekali je seumur hidup. Rasulullah kata tak apalah. lalu dipanggil Bilal. Bilal subuh nanti berilah kepada dia ni untuk azan”. ni cerita sahabat Rasulullah.

o Ditanya murid kepada Syeikh Muhyiddin Abdul Qodir Jilani, “apa bandingan tuan syeikh dengan Rasulullah SAW dan apa pula bandingan dengan sahabat Rasulullah SAW”. Jawab syeikh: “Bandingan aku dengan Rasulullah SAW, kalau Rasulullah SAW itu Bukit Uhud aku ni debu di kaki Bukit Uhud. Itu Syeikh Muhyiddin Abdul Qodir Jilani yang boleh kata: “qodami ha za ‘ala roqobatin kulli waliyyin” iaitu setiap batang tengkuk para wali duduk di bawah tapak kaki dia belaka. Ulama’ – ulama’ sufi terjemah semua wali dari zaman Nabi Adam sampai kiamat, semua wali duduk di bawah kaki Syeikh Muhyiddin Abdul Qodir Jilani belaka. Lihat di dalam Kitab Yaqozah karangan Syeikh Ahmad Tijani. Doh bandingan mu dengan sahabat. Kalau sahabat itu kuda, aku ni debu di kaki kuda.

o Yang nak azan ni sahabat. Sahabat yang seangkatan dengan Bilal. Orang yang berkorban yang tak ada bandingan dengan kita ni. Lalu tiba waktu subuh, diapun azan. semua orang puji sedap. orangpun ramai – ramai sembahyang subuh di masjid Nabawi. Jadi bila dah sudah selesai sembahyang semua sekali. Jibrailpun turun. “Ya Muhamad, kenapa mu dak sembahyang subuh lagi hari ni”. Rasulullah SAW kata habis dah kita sembahyang. Lalu kata Jibrail, kenapa azan dok dengar di langit ? Azan sahabat tadi hebat tu tak dengar di langit. tu sahabat azan. kalu kita ?

Nak hebat macam mana ? Kalau ada satu kalam terbit dari lidah kita, pada hari itu mengumpat (cerita aib saudara kita – cerita yang betul). amalan kita tidak naik ke langit. sampai langit pertama, penjaga pintu langit dah lontar ke bawah.

Macam tupun (sahabat tadi) tidak masuk dalam kalangan yang dimuliakan di langit !

- Tok guru yang kita nak cari, tok guru yang boleh beri semua benda. macam mak beranak ke kita, ada dia beranak sikit – sikit. tangan dulu, lepas tu lengan... atau masa akad nikah, boleh akad nikah sikit – sikit. misalnya nikah pipi je dulu.. ataupun kita dapat masuk universiti. boleh kita hantar kepala dulu, tubuh tak payah lagi... boleh ?

- Kita nak cari tok guru yang boleh beri satu benda yang ada belaka di dalamnya tu. agak – agak benda apa ? Dalam satu benda, ada belaka yang lain – lain. contoh: kalu beri sembahyang, ada puasa dalam tu ? atau tak payah sembahyang dah pasal dah ada puasa, boleh ?

o Kena cari tok guru yang boleh beri belaka. semua benda. ada ratib, ada wirid dan lain – lain lagi dan ada tuntutan ibadah iaitu ada sembahyang, ada puasa, ada zakat, ada haji. ada tuntutan jihadu bil mal dan ada jihadu bin nafs.

o Sebab Allah jadikan kita ni sebab kita sanggup terima tuntutan. Dalam hadis qudsi: Allah Taala mempelawa kepada Nabi Adam, mu nak dak agama ? Bukan Allah Taala paksa terima agama. Nabi Adam kata kalau aku terima agama ni aku boleh apa ? Lalu Allah Taala berfirman kalau mu buat baik mu boleh syurga, kalau buat jahat mu boleh neraka. Nabi Adam dak nampak neraka pasal dia duduk di syurga dah. Adam kata kalau boleh syurga aku nak lah. Nabi Adam ni alhamdulillah belaka, buat baik alhamdulillah. buat jahatpun alhamdulillah sebab dia berasal daripada syurga. Orang dalam syurga semua syukur. semua alhamdulillah. Maka diapun terimalah agama.

o Tetapi sayang. Kita ni terima doh amanah agama kemudian kita kufur pulak (bila menjalani hidup dan kehidupan dunia). Maka sebab itulah kita kena cari Rabitoh dan wasilah yang akan membawa kita balik kepada Allah SWT. “Hendaklah kamu beserta dengan Allah. Kalau kamu tidak boleh beserta dengan Allah hendaklah kamu beserta dengan orang yang beserta dengan Allah, nescaya dia akan bawa kamu kepadaNya”. Itu sebab kena cari Rabitoh dan wasilah supaya ditarbiyah ikut yang dikehendaki oleh Rasulullah SAW.

Rabitoh tempat kita terima agama.
Jadi perhimpunan segala juzuk – juzuk alam dan seisinya (terhimpun madah makni alam dan seisinya) berada pada Dua Kalimah Syahadah. sebab itu kena terima bai ‘ah kalimah syahadah.

Mari sama – sama kita terima ijab dan kabul Dua Kalimah Syahadah, cara memfardhu agama ke atas diri. Terima secara musyafahah dan talaqqi. Itu adalah suatu tuntutan dalam agama.

Dalil Rabitoh. Surah Al Imran, ayat 200. Mafhumnya: “Hai orang yang beriman sabarlah oleh sekalian kau dan sentiasalah kamu bersifat sabar dan rabitahkanlah oleh sekalian kamu dan peliharalah oleh sekalian kamu akan hukum Allah yang Allah taqlifkan ke atas kamu mudah – mudahan kamu mendapat kemenangan di dunia dan di akhirat”.

Dalil Wasilah. Surah A Maidah, ayat 35. Mafhumnya: “Hai orang – orang yang beriman peliharalah oleh sekalian kamu akan hukum Allah yang Allah taqlifkan ke atas kamu dan ambil oleh sekalian kamu akan wasilah kepadaNya dan bersungguh – sungguhlah kamu pada jalannya mudah – mudahan kamu mendapat kemenangan di dunia dan di akhirat.

Rabitoh dan wasilah ini tidak ada ulama muktabar yang tak buat melainkan buat belaka. sebagai contoh di kalangan ulama Islam: Syeikh Husin Ahmad Ad Dussairi, Maulana Muhammad Zakaria Al Khandahlawi, Sheikh Al Islam Al Madani, Sheikh Ibrahim Hilmi Al Qhadiri, Sheikh Abdul Samad Al Palembani, Sheikh Daud Al Fatani, Sheikh Muhammad Bin Abdullah Al Khalidi, Sheikh Abu Al Qhosim Al Junaidi Al Baghdadi, Sheikh Ibrahim Ad Dasuki r.a., Sheikh Ibnu Abi Daud Al Hanbali, As Syahid Hassan Al Bana.

Contoh dikalangan ulama sufi: Al Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah, Al Imam Al Ghazali Rahimullah, Sheikh Tajuddin Ibnu ‘Atoillah Al Iskandar.

o Faedah Rabitoh dan wasilah ni antaranya kita terhindar dari buat maksiat yakni terhindar daripada maksiat dan terasa nak buat maksiat. Berasa nak buat. semua orang begitu, tetapi janganlah buat maksiat. Rabitoh dan wasilah mengukuhkan cita – cita nak buat baik dan melaksana baik dan cita – cita nak tolak jahat dan tidak buat jahat.

wallahu alam.
Sekian.

Related Posts with Thumbnails