23 September 2010

26. SUFI HAKIKI DAN SUFI PALSU

Syeikh Abdul Qadir al-Jailani
oleh Geng Abjad Malaysia
http://www.facebook.com/notes.php?id=1526134910#!/note.php?note_id=415972686822

0rang-orang yang mengikuti perjalanan ruhani menuju Allah (Ahli Suluk
atau Ahli Thariqat) terbagi menjadi dua golongan.

Yang pertama, ialah golongan Ahli Sunnah Wal-Jama'ah.
Mereka mematuhi ajaran al-Qur'an dan mematuhi amalan dan peraturan
yang dicontohkan dari perilaku dan kata-kata Nabi Muharnmad Saw.
Mereka mengikuti panduan tersebut dalam perkataan, dalam bertindak,
dalam pemikiran dan dalam perasaan mereka.
Mereka mengikuti maksud di dalam hati atau intisari yang tersirat dan
yang terpendam dalam ajaran Islam.
Mereka sangat paham dan tidak mengikuti begitu saja ajaran-ajaran
Islam.
Mereka mematuhi ajaran Islam sepenuhnya, menghayati dan menikmati
manisnya ajaran dan prinsip agama.
Mereka melakukan ibadah bukan karena paksaan, tetapi mereka merasa
nikmat melakukannya.
Inilah jalan mistik (keruhanian) yang mereka patuhi.
Mereka adalah kaum pencinta Allah yang sebenarnya.

Ada sebagian dari mereka yang dijanjikan dengan surga tanpa dihisab
terlebih dahulu di hari Pengadilan.
Ada sebagian merasakan sedikit azab di Hari Pembalasan, kemudian
dimasukkan ke surga.
Ada pula yang terpaksa merasakan azab neraka untuk sekian lama guna
membersihkan dosa-dosa mereka sebelum dimasukkan ke surga. Tetapi
tidak ada yang berada selama-lamanya dalam neraka itu.
Yang kekal dalam neraka ialah orang-orang kafir dan orang-orang
munafik.

Yang kedua, ialah kaum yang sesat atau kaum Sufi yang patsu yang
terdiri dari berbagai golongan.
Mereka ini adalah kaum yang sesat di zaman ini.

Golongan yang Sesat

Banyak golongan orang-orang yang sesat, antara lain:

Golongan Hululiyyah: Mereka berpendapat adalah halal melihat badan
orang yang bukan mahramn, yang menggiurkan nafsu, dan paras yang
cantik yang bisa mendorong kepada zina, baik lelaki atau perempuan,
siapa pun baik anak atau isteri orang. Mereka berbaur antara lelaki
dan perempuan dan menari bersama-sama.
Hal ini jelas sekali berlawanan dengan ajaran dan prinsip Islam.

Golongan Haliyyah: Mereka ini gemar menyanyi, menari, memekik,
menjerit dan menepuk tangan.
Konon, dalam keadaan demikian mereka dapat mengatasi dan melampaui
hukum-hukum syari'at Islam.
Tidak perlu lagi bersyari'at karena telah melampaui peringkat
syari'at.
Hal ini jelas sesat karena Nabi Muhammad Saw. sendiri pun mengikuti
syari'at,walaupun ia kekasih Allah Swt.

Golongan Auliaiyyah: Mereka ini mendakwakan diri dekat dengan Allah.
Dengan kata lain telah mencapai peringkat Aulia Allah.
Apabila telah jadi Waliullah tidak perlu lagi shalat, puasa, haji,
dan beribadah lainnya.
Mereka berpendapat bahwa seseorang Wali menjadi anak Allah dan dengan
itu mereka lebih tinggi derajatnya dari Nabi.
Mereka mengatakan bahwa ilmu atau wahyu sampai kepada Nabi melalui
malaikat Jibril, tetapi Waliyullah menerima ilham atau hikmah
langsung dari Allah.
Itulah dakwaan mereka.
Pendapat mereka ini adalah silap, salah dan sesat yang akan membawa
mereka kepada kebinasaan dan akan menjerumuskan mereka ke lembah
bid'ah dan kafir.

Golongan Syamuraniyyah: Mereka percaya kalam (perkataan) adalah kekal
dan barangsiapa menyebut kalam yang kekal (kalam Allah) itu tidak
terikat dengan hukum atau syari'at agama.
Mereka tidak peduli dengan hukum halal atau haram.
Dalam upacara ibadah mereka menggunakan alat musik.
Perempuan dan lelaki berbaur menjadi satu.
Tidak ada hijab lelaki dengan perempuan.
Ini sudah jelas sesat dan menyimpang jauh dari ajaran al-Qur'an.

Golongan Hubbiyyah: Golongan ini berkata bahwa apabila seseorang
sampai ke peringkat cinta, mereka tidak lagi berada di bawah hukum
syari'at.
Mereka tidak peduli dengan pakaian. Kadang-kadang mereka bertelanjang
bogel.
Tidak ada lagi perasaan malu pada diri mereka.
Inilah ajaran sesat dan menyesatkan.

Golongan Huriyyah: Mereka senang berteriak-teriak, memekik-mekik,
menyanyi, dan bertepuk tangan, konon katanya untuk mendapatkan Dzauq
(ekstasi).
Mereka mendakwa bahwa dalam keadaan Dzauq itu mereka ber-senggama
atau bersetubuh dengan bidadari.
Setelah mereka keluar dari keadaan Dzauq, mereka pun mandi hadas.
Mereka ini tertipu oleh nafsu mereka sendiri.
Sesatlah mereka.

Golongan lbahiyyah: Mereka ini tidak menyuruh berbuat baik dan tidak
melarang berbuat jahat.
Sebaliknya mereka menghalalkan yang haram.
Zina pun dihalalkan.
Bagi mereka, semua wanita halal untuk semua lelaki.
Inilah golongan yang sesat dan miskin yang meminta sedekah dari rumah
ke rumah.
Mereka beranggapan bahwa mereka menerima azab Allah yang hina.

Golongan Mutakasiliyyah: Mereka mengamalkan prinsip bermalas-malasan
dalam meneari nafkah.
Mereka telah me- ninggalkan dunia dan keduniaan.
Maka musnahlah mereka dalam kemalasan mereka sendiri.

Golongan Mutajahiliyyah: Mereka berpura-pura bodoh dan berpakaian
tidak senonoh dan bersikap seperti orang kafir.

Padahal Allah berfirman:

"Janganlah kamu cenderung meniru orang-orang yang zalim, kelak kamu
akan di sentuh (dijilat) api neraka" (Hud: 113).

Nabi pun pernah bersabda:

"Barangsiapa mencoba menyerupai sesuatu kaum, maka mereka dikira
sebagai ahli kaum itu. "

Golongan Wafiqiyyah: Mereka berpendapat bahwa Allah yang mampu
mengenal Allah.
Dengan itu mereka tidak mau berusaha mencari hakikat atau kebenaran.
Karena kebodohan mereka itu, mereka terseret ke jurang kerusakan dan
kesesatan.

Golongan Ilhamiyyah: Mereka ini mementingkan ilham.
Tidak mau menuntut ilmu dan tidak mau belajar.
Mereka berkata bahwa al-Qur'an adalah hijab bagi mereka.
Mereka menggunakan puisi karangan mereka sebagai ganti al-Qur'an.
Mereka membuang al-Qur'an dan meninggalkan ibadah shalat, dan lain-
lain.
Mereka mengajarkan anak-anak mereka berpuisi sebagai ganti al-Qur'an.
Maka sesatlah mereka.

Demikian banyak ajaran-ajaran sesat dari guru Sufl palsu di zaman
ini, kata Syeikh Abdul Qadir al-jailani.

Sufi yang Benar dan Sufi Palsu

Sebenarnya golongan sesat dari kaum yang mengaku dirinya Sufi itu
akan terus ada di setiap masa, baik dari golongan kaum Muslimin yang
melencong dari jalan yang benar maupun dari golongan kaum kafir juga.

Adapun kaum kafir, sejak semula mereka telah tersesat dalam belenggu
kekufuran.
Meskipun mereka bertabiat seperti seorang Sufi, dan mereka menahan
diri dari segala macam tuntutan hawa nafsu untuk bertaqarrub, namun
dasar kepercayaan mereka sendiri itu telah salah dan melenceng dari
jalan Allah yang sebenarnya.
Mereka seperti yang sering kita lihat pada orang-orang yang
berkeperecayaan Hindu dan Buddha dan sebagainya.
Sayang sekali jerih payah mereka dalam mengendalikan diri dari hawa
nafsu dunia itu ditujukan untuk kepercayaan yang sesat,bukan kepada
Tuhan Yang Maha Esa.

Allah berfirman:

"Dan siapa yang memohon kepada tuhan yang selain Allah, dia tidak
mempunyai alasan apa pun tentang kepercayaannya itu, maka
sesungguhnya perhitungannya nanti di sisi Tuhannya jua, sesungguhnya
tiadalah beruntung orang-orang yang tidak beriman itu" (Al-Mu'minun: 117).

Sungguh menyedihkan keadaan mereka.
Mereka telah bersusah payah menahan segala kenikmatan di dunia,
tetapi tidak mampu memetik hasil dari jerih payahnya itu, karena apa
yang mereka lakukan adalah sia-sia belaka.
Sementara di akhirat mereka pun akan mendapat hukuman, siksa di dalam
api neraka untuk selama-lamanya karena tidak mengikuti petunjuk yang benar.

Bagaimana dengan orang-orang yang beriman, tetapi kemudian yang
tersesat jalan?
Mungkin pada awalnya mereka melangkah di jalan yang benar atau
berniat baik untuk tujuan Sufi.
Tetapi tidak mustahil, mereka bisa tertipu dalam perjalanan
kesufiannya itu, karena terpengaruh oleh hawa nafsu.
Nafsu yang akan ditentangnya ternyata berbalik muka menjadi gejala
yang menentangnya.
Orang yang menentang hawa nafsu itu bertujuan menghadapkan wajahnya
kepada Tuhan yang dicari-Nya agar dikenali-Nya. Perlakuannya di dalam
kesufian itu bukanlah bertujuan untuk mencari pangkat atau memperoleh
pujian dan nama dalam masyarakat pengikutnya.
Apabila dilihatnya dirinya dihormati, para pengikutnya berkerumun
mengelilinginya, dan terharulah hatinya, ia sangat senang dengan
keadaan ini.
Padahal, inilah penyakit, yang dalam istilah kesufian disebut
Istidraj, yakni perkara-perkara yang datang sebagai cobaan dan ujian
kepada seorang Sufi.

Orang yang semacam ini, memang setan senang sekali berdampingan
dengannya.
Dia malah lebih senang menyandarkan dirinya dengan Sufi palsu ini
daripada orang yang bodoh dari liku-liku urusan agamanya.
Memang mudah orang yang 'bodoh' itu dapat dipengaruhi dan
diperdayakan oleh setan, tetapi hasilnya hanya seorang saja.
Berbanding dengan Sufi palsu ini, dia mempunyai pengikut yang banyak,
kalau dapat diperdayakan setan satu orang Sufi, maka Sufi itu dapat
menghantar perdayaan itu kepada semua pengikutnya, kecuali orang yang
diselamatkan Tuhan.

Setan akan berbisik kepada si Sufi palsu itu:
Engkau seorang besar! Pengaruhmu sungguh mengagumkan! Sebab para
pengikutmu banyak sekali,karena itu engkau jangan bimbang! Mereka
tidak akan menyia-nyiakanmu.
Engkaulah orang Sufi yang benar! Engkau wali, dan bukankah wali itu
orang kesayangan Tuhan! Apa pedulimu kepada orang-orang bodoh yang
merendahkan derajatmu.
Mereka itu tidak mengerti. Masih jahil. Jahil murakkab.
Engkau begini, dan begitu, dan seterusnya.
Bisikan itu tidak ada akhirnya.
Diberikan kepadanya Khatir-khatir, yakni lintasan-lintasan hati yang
semuanya palsu dan keliru, sedang diatermakan semua umpan yang
dipasangkan di dalam perangkapnya.
Itulah dia Istidraj yang selalu menimpa orang yang mengangan-angankan
diri menjadi Sufi sebelum waktunya.
llham yang diterimanya bukan ilham dari Allah Swt., tetapi ilham dari
setan, sedang dirinya tidak tahu.

Orang Sufi palsu ini sungguh berbahaya kepada umat Islam.
Dia lebih berbahaya daripada sang Sufi sesat, yang perjalanannya
benar, tetapi kepercayaannya salah dan sesat.
Sebab orang Sufi sesat itu, semua orang Islam telah rnengenalinya dan
mudah dikenali.
Namun sang Sufi palsu itu akan membawa kekeliruan kepada khalayak yang
tidak mengerti, atau orang yang mudah terpengaruh dengan hal-hal yang
tidak asli atau tiruan.
Lalu bukan saja dia yang sesat, malah dia akan menyesatkan banyak
orang yang tidak berdosa, hanya salahnya karena terpengaruh dengan
yang salah yang digambarkan sebagai benar, wallahu-a'lam.

Pendapat Ahli Sunnah wal-jama'ah

Para pemimpin dan guru-guru Sufi dari golongan Ahli Sunnah Wal-
Jama'ah berpendapat bahwa para sahabat, dengan berkat ajaran dan
kehadiran Nabi, adalah dalam keadaan Dzauq keruhanian yang tinggi
martabatnya.
Setelah zaman berlalu, keadaan keruhanian yang tulen ini makin lama
makin kurang dan tipis.
Kemudian keadaan keruhanian ini diwarisi oleh guru-guru mursyid yang
kemudian, pecah menjadi banyak firqah dan
cabang.

Oleh karena terlalu banyak firqah dan golongan kaum mursyid itu,
hikmah dan tenaganya pun makin tipis dan makin berpecah-belah. Dalam
banyak hal, yang tinggal hanya bentuk zahir saja yang berlagak
seperti guru Sufi, padahal batinnya dan hakikatnya bukan Sufi. Lama
kelamaan timbullah Sufi-Sufi palsu dan bid'ah. Ada yang menganut
golongan Haydari dan berpura-pura menjadi perwira dan pahlawan.
Ada pula yang menamakan diri mereka kaum Adhami dan berpura-pura
mengikuti jejak langkah Ibrahim Adham, yaitu seorang Sufi besar yang meninggalkan
istana dan pangkat sultan karena hendak mengamalkan ilmu Sufi.
Bahkan, masih banyak lagi ajaran sesat dari guru Sufi palsu yang
timbul.

Dalam zaman ini, ahli-ahli Sufi yang sebenarnya, yang bersesuaian
dengan syari'at, makin lama makin berkurangan jumlah mereka.

Ahli Sufi yang hakiki dapat dikenali dengan dua cara:

Pertama, zahir mereka, yaitu mereka mengamalkan syari'at.

Kedua, batin mereka, yaitu boleh dijadikan contoh teladan karena
mereka mewarisi keruhanian Nabi Saw.
Sebenarnya contoh manusia yang paling baik ialah Nabi Besar Muhammad
Saw. Dialah sebenar-benar Sufi yang hakiki.
Syari'at dan Hakikat hendaklah bersama seiring jalan
untuk kesinambungan agama dalam kehidupan mukmin dan mukminah sejati.

Seorang Waliyullah yang mewarisi keruhanian Nabi akan memberi berkat
kepada Si Salik dengan kehadiran fisiknya. Sesungguhnya Iblis tidak
dapat menyerupai Nabi Saw.

Awas, wahai Salik, orang buta tidak boleh menunjukkan jalan pada si
buta yang lain.

Pandangan kita hendaklah tajam supaya kita dapat membedakan kebaikan
dengan kejahatan, walau sebesar zarrah pun.

Ingatlah, bahwa perjalanan Sufi itu bukan medan permainan.
Bila suka boleh ikut, bila malas boleh ditinggalkan. la adalah jalan
menuju ke Hadhirat Ketuhanan, yang kepadanya tidak semudah diucapkan lisan.
walaupun begitu, wajarlah ia menjadi tujuan setiap insan. Yang ingin
mencari ketenangan diri dan makrifat hakikat penciptaan Tuhan.
Bukankah kita disuruh rnenyembah-Nya menurut bunyi sebuah firman?
Bagaimana boleh menyembah kalau belum sempat untuk berkenalan?

Khatir yang Datang Kepada Sufl

Khatir itu ialah lintasan-lintasan hati, atau cetusan yang muncul di
hati orang Mukmin karena sesuatu sebab atau yang lain. la biasanya
datang secara tiba-tiba sehingga mengharukan orang yang didatanginya.
Kalau ia telah terbiasa dengan khatir- khatir seperti itu,
maka perkaranya agak mudah sedikit, akan tetapi khatir yang datang sekali-
sekali harus diberikan perhatian yang cukup dan dipertimbangkan
dengan sehalus- halusnya agar dia tidak tertipu.

Apabila khatir itu muncul, dan hatinya kuat mengatakan, bahwa dia itu
datang dari Malaikat, yakni Khatir-Al-Malak, mestilah dia bertenang
lebih dahulu dan bertanya pada dirinya:

Siapa engkau ini, dan engkau datang dari mana?
Mungkin tidak sukar ia akan mendengar suara hatinya menjawab: Aku ini
sebagian Nubuwah, yakni pemberitahuan khusus yang datang dari Al-Haqq,
yaitu Tuhan yang sebenarnya. Aku memang benar. Aku datang dari
Habib (siapa yang dicintai) dan Ar-Rafiq (Rakan). Khatir, atau bisikan hati ini akan
memenuhi kebatinannya, pendengarannya dan pemandangannya. Sikap orang
yang didatangi Khatir ini gemar sekali rnengasingkan diri dari
kumpulan orang ramai, tidak suka banyak berbicara, seperti orang
sakit lagaknya. Mukanya terlalu masyghul karena tekanan Khatir yang
datang menyelubungi jiwanya itu.

Dalam keadaan yang serupa itu, orang yang tidak tahu akan mengatakan
bahwa dia sedang ditimpa gangguan dalam dirinya, karena semua
sifatnya berubah dan seolah-olah dia berada di tempat yang bukan
tempat yang dia sedang berada itu.
Tetapi sebentar lagi keadaannya akan berubah pula, dan dia kelihatan
penuh perasaan tenteram dan tenang, dan sedikit demi sedikit
keadaannya akan kembali pulih seperti sediakala seolah-olah tiada
sesuatu yang menimpa dirinya.

Di dalam keadaan dia sedang diselubungi Khatir itu, dia kelihatan
seperti orang yang terkena pukau, yang kesadarannya tidak penuh.
Kadang-kadang dia akan mengatakan sesuatu yang boleh didengar oleh
orang yang berada di sisinya, dan kadang-kadang tidak kedengaran apa
yang dikatakannya itu, seolah-olah dia sedang asyik berbicara sesuatu
dengan se-seorang yang berada di sisinya. Namun siapa yang mengerti
semua keadaan ini kecuali orang yang sudah mengalaminya, dan orang
yang mengalami hampir semuanya tidak mau menceritakannya, karena
semua itu adalah rahsia-rahsia ketuhanan yang halus yang tidak
boleh dibocorkan. Dan kalau diberitahukan pula, mungkin ramai orang
yang tidak percaya. Mungkin dikatakan orang, dia itu terasuki jin,
wallahu-a'lam.

0 ulasan:

Catat Ulasan

Related Posts with Thumbnails